Cari Posting Lainnya

Kamis, 13 Desember 2012

Digitalizing, Timbangan Baru!

Beberapa bulan yang lalu, setiap baca milis pasti ada aja yang nanya soal timbangan jenis apa yang sebaiknya dibeli, dan bagusnya merk apa. Jadi, saya pingin berbagi cerita sedikit. Kebetulan saya baru-baru ini dapat hadiah timbangan digital dari teman.. hihihi *big grin*.

Selama ini saya memang pakai timbangan jadul yang dihibahkan nyokap. Bukannya nggak bagus sih, cuma memang fiturnya agak terbatas. Satuan terkecil timbangan jadul ini 10 gram, dan karena sudah agak tua, akurasinya sudah melenceng jauh. Kadang kalau nggak sengaja tersenggol, jarumnya suka pindah. Hehehe.. jadinya seru juga sih, dan selama ini hasil baking saya bagus-bagus aja.

Timbangan jadul yang jarumnya suka dangdutan :D
Karena alasan inilah saya juga jadi menunda terus mau beli timbangan digital. Tadinya sih memang yang saya incar itu timbangan digital merk Tanita. Karena dari testimoni teman-teman di milis, selain awet, juga bagus akurasinya. Harganya memang lumayan, tapi kualitasnya sebanding, jadi ya okelah.

Timbangan jadul yang selama ini udah nemenin saya berjuang. I'll still love you!
Tapi hari berganti hari, nggak dibeli juga. Hehehehe..
Suatu hari teman saya datang dari luar kota, dan dia menitipkan hadiah ke suami. Senang banget ternyata dia ngasih timbangan digital. Hwaa.. just what I needed!

Setelah dipasangi batere, saya uji coba dan akhirnya sampai sekarang ketagihan pakai timbangan digital terus.

Warnanya putih, lampunya biru, cantik >.<

Yang paling signifikan adalah semuanya jadi praktis. Nggak perlu lagi menuang bahan yang akan ditimbang ke wadah, lalu memindahkan lagi ke wadah kocok. Semuanya bisa ditimbang pakai wadah apa aja. Kebayang kan betapa banyak waktu yang bisa dihemat, dan lumayan hemat cucian juga :D

Sudah gitu, sekarang saya bisa menimbang dengan akurat! Cihui! Kalau ada yang satuannya 3-4-5 gram, sekarang udah nggak masalah lagi. Mau bikin kue kering juga bisa ditimbang dulu biar sama besarnya.


Si Krischef ini bukan merk mahal, setahu saya harganya 200ribu-an. Tapi lumayan banget, saya baru pakai 2-3 bulan dan belum ada masalah. Kapasitasnya sampai 5 kg. Sepertinya bisa awet juga umurnya kalau kita apik pakainya. Baterenya juga mudah dicari, karena pakai batere biasa yang ukuran paling kecil (jadi nggak bingung kalau tiba-tiba batere habis pas udah malam). Selama 2-3 bulan pemakaian, saya belum ganti baterenya lho. Jadi, untuk teman-teman yang masih bingung soal alat baking, saran saya kalau punya budget lebih, inves aja ke timbangan digital sekalian. Nggak rugi deh.

Senin, 26 November 2012

Interfood 2012

Interfood tahun ini benar-benar perjuangan buat saya. Beberapa hari sebelum Interfood dimulai, kereta Bogor -  Jakarta longsor. Sudah gitu ada demo buruh dan hujan juga turun setiap hari. Tapi akhirnya saya pergi juga setelah sebelumnya sempat browsing dulu mengenai rute terbaik dari Bogor ke JI Expo.

Untungnya waktu saya berangkat, jalanan tidak terlalu macet, tapi saya sempat nyasar. Hehehe.. soalnya belum pernah pergi ke JI Expo murni menggunakan angkutan umum sih. Dulu saya malah nggak tahu kalau ada mikrolet yang lewat situ. Tahunya hanya ada taksi dan bajaj.

Akhirnya sampai juga setelah perjalanan panjang :D

Jadi kemarin itu, saya naik bus Bogor-Tanjung Priok, turun di Cempaka Mas. Habis itu jalan melewati perempatan, sempat bingung karena harusnya naik mikrolet M 53 dari situ tapi nggak ada yang kelihatan. Untungnya nggak lama, muncul juga mikroletnya. Nanti bilang aja mau turun di PRJ, jadi bisa turun pas di gerbang masuknya (kalau nggak salah gerbang 6A). Dari tempat turun itu, jalan lagi ke dalam JI Expo-nya. Lumayan jauh sih, saya sempat makan siang dulu di kedai dekat gerbang masuk, dan nggak dirasa-rasa sampai juga akhirnya di tempat pameran.

Stand Sinar Himalaya yang rame diborong orang.
Saya juga mau sharing sedikit tentang metode pendaftarannya. Jadi kalau mau dapat tiket masuk gratis, kita harus daftar dari jauh-jauh hari melalui website-nya Kristamedia. Pendaftaran online ditutup 1 minggu sebelum pameran. Kalau nggak daftar sebelumnya dan datang on the spot, akan dikenakan biaya masuk sebesar 50ribu. Lumayan kan?

Sesudah daftar secara online, nanti kita akan menerima balasan berupa e-mail konfirmasi dari Kristamedia. Nah, kalau tahun lalu e-mail itu saya print dan saya bawa untuk ditunjukkan pada saat registrasi. Untuk kemarin ini, entah gimana saya lupa. Ternyata e-mail itu nggak mesti di-print, sodara-sodara. Fiuhh.. cukup ditunjukkan aja melalui handphone pun bisa.

Mu Gung Hwa yang ramai, meski nggak ada diskon. Booth mereka sama dengan tahun lalu.

Booth Elmer, saya hanya numpang foto :D

Secara keseluruhan, menurut saya Interfood tahun ini kurang menarik. Selain karena tidak terlalu banyak hal baru, tahun ini juga banyak sekali vendor kopi dan minuman yang ikut. Jadi sepertinya vendor bahan kue dan makanannya agak tergusur. Ada beberapa vendor yang tahun lalu ikutan, tahun ini malah nggak kelihatan. Entah karena saya yang kurang keliling atau memang mereka nggak partisipasi.

Booth Gandum Mas yang mengecil.

Tapi display Gandum Mas tetap mantap!

Ada yang stand-nya dulu besar dan jualannya heboh, tahun ini malah nggak terlalu "jualan". Display kue juga menurut saya kurang menarik. Tahun ini kebanyakan temanya rainbow, sementara saya kurang suka dengan rainbow.. hehehe.

Kue Rainbow ala Ny. Liem

Roti Rainbow? Hmm...
Mungkin yang paling menarik tahun ini adalah Japanese Roll Cake, bolu gulung yang permukaannya diberi motif atau gambar lucu-lucu. Hampir semua booth memamerkan kue ini, tapi nggak semuanya rapih dan cantik.

Japanese Roll Cake, tapi yang ini kurang rapih.

Japanese Roll Cake di booth Guten Braun, sempat ada demonya juga.


Display keren dari Tigerson, semuanya menggunakan coklat dan transfer image.

Display kue dengan topper berpasang-pasangan dari Guten Braun.

Salah satu kue cantik yang ada di display, saya lupa euy ini punya siapa.

Ada juga booth yang kurang antusias menanggapi pertanyaan kalau kita tidak terlihat mau beli. Hehehe.. tapi sebaliknya, ada juga yang sales-nya jempolan, mau ditanyai ini itu dan bersedia menjelaskan dengan detil.

Puas interogasi di booth Chefmate.
Kemarin saya sempat juga membeli beberapa barang, itu aja bawanya lumayan repot karena saya sendirian dan harus pulang lagi menggunakan bus. Untung di perjalanan, orang-orang yang saya temui semuanya baik hati.

Pameran tahun ini juga menurut saya kurang asyik alurnya, karena dibagi di 2 hall, tapi tidak ada informasi yang cukup jelas dari penyelenggara. Akhirnya saya perhatikan hall yang satu ramai sampai desak-desakan. Sedangkan hall seberangnya malah kosong melompong. Itu juga untungnya sebelum pulang, saya ketemu dengan Ci Lily Tyucake. Kalau nggak, mungkin saya nggak akan tahu kalau di hall seberang ada pameran Cake Decor hasil lomba. Semuanya keren-keren lho!

Kue hasil lomba dekor yang dipajang di hall seberang, cantik semua!

Yang ini bayinya betul-betul realistis, keren!

Kue tema wedding.

Kue tema wedding karya team Ny. Liem.

Yah, semoga Interfood tahun depan tidak diwarnai demo, atau longsor. Semoga juga pamerannya berlangsung sampai hari minggu. Hehehehe.. supaya saya bisa menghindari lalu lintas padat.
Oiya, untuk foto-foto lengkapnya bisa diintip disini ya :D

Minggu, 21 Oktober 2012

Spicy Coca Cola Chicken Wing

Meskipun masak nggak ada hubungannya sama komputer, ternyata stres juga lho begitu komputer di rumah rusak. Belum lagi tegangan listrik yang suka turun naik, bikin senewen. Sekalinya tegangan listrik turun, langsung deh kompi dangdutan, sebentar nyala, gak lama mati. Terpaksa dimatiin, jadinya nggak bisa ngapa-ngapain.. hiks. Makanya sebel banget dokumentasi Lebaran kemarin jadi tertunda jauh. Sampai il-feel ngerjainnya, soalnya udah lewat banget momennya. Padahal Lebaran kali ini lumayan juga lho pesanannya Eggknock. Lengkapnya bisa diintip di sini ya.

Sekarang, mau update resep dulu deh. Sebenarnya ini udah lama banget dijajalnya, tapi karena dulu nggak sempet foto-foto, jadinya nggak bisa dimasukin ke blog. Nah, kemaren ini kebetulan lagi pengen makan spicy wing, akhirnya bikin lagi dan jadi bisa difoto lagi. Hehehe..


Resepnya benar-benar sedap, kalau kata orang bule, ini finger-lickin' good! Dulu saya dapat resepnya dari milis, yang punya resep sebenarnya Mbak Vita, tapi saya malah nggak pernah main ke blog-nya. Pemakaian coca cola sepertinya bikin ayamnya jadi empuk dan kalau menurut Mbak Vita, jadi bikin sensasi karamel di sausnya.


Begitu udah nyoba resep ini, dijamin deh nggak bakal beli spicy wing frozen lagi. Pasti maunya bikin sendiri aja soalnya rasanya jauuuuh lebih enak dan gampang banget bikinnya.

Spicy Coca Cola Chicken Wing


Bahan A :
10 potong sayap ayam
1 sdm air jeruk nipis

Bahan B : 

2 siung bawang putih, parut (*saya dijadiin satu dengan jahe, terus diblender)
1 cm jahe, parut.
1/2 sdm minyak wijen
2 sdm kecap asin
1 sdm kecap manis
2 sdm saus tiram
2 sdm madu
3 sdm saus tomat
1/2 sdt garam
1/4 sdt merica
200 ml coca cola

Cara Membuat : 

1. Cuci sayap ayam, lumuri dengan air jeruk nipis, bilas kembali.
2. Campur sayap ayam dengan bahan B, masak dengan dengan api kecil sampai bumbu meresap dan airnya habis sambil sesekali diaduk.
Apinya jangan terlalu besar ya, nanti hasilnya kurang enak.

Bumbunya mulai meng-karamel. Yummm!
3. Untuk mendapatkan permukaan yang garing, sayap ayam yang sudah matang bisa dipanggang sebentar pakai oven, atau dipanaskan dengan api kecil di atas teflon.

Selasa, 09 Oktober 2012

10 Yummy Things To Eat at Pontianak

Salah satu efek The Secret berhasil menerbangkan saya ke kampung halaman di Pontianak beberapa waktu lalu (sebenarnya kampung halaman orang tua saya sih, saya mah bukan kelahiran sana). Hehehehe.. pastinya saya girang banget. Tadinya kampung halaman saya yang terasa nun jauh disana, tiba-tiba setelah 1.5 jam naik pesawat sudah di depan mata.

Pontianak itu sebenarnya hanya kota kecil, dibilang maju juga nggak sampai metropolitan seperti Jakarta. Yang paling menyenangkan untuk dilakukan di sana pastinya wisata kuliner.. hehehehe.
Saya mau membahas beberapa makanan khas yang sempat saya cicipi kemarin. Sebenarnya makanan khas Pontianak masih buanyak, tapi karena saya hanya 3 hari di sana dan ada urusan lain, jadi yang sempat saya cicipi hanya beberapa. (Ada juga yang udah dicicipi tapi nggak bisa dipajang fotonya karena terlalu gelap, hiks.)

1. Bakmi Kepiting
Begitu sampai di kota Pontianak (lokasi bandaranya agak jauh dari pusat kota, kurang lebih 30-45 menit dengan mobil), tanpa basa-basi saya dan nyokap langsung mengunjungi kedai Mie Kepiting A Ti di dekat gereja Katedral.
Kwetiaw yam yang rasanya agak asam, tapi segar dan sedap!
Yang khas di sini adalah Mie Kepiting, jadi kalau pertama kali datang sih saya sarankan untuk jajal dulu Mie Kepitingnya. Yang dimaksud dengan Mie Kepiting ini mie yang direbus, lalu ditiris dan diberi bumbu, kemudian disajikan dengan topping cacahan daging babay kecap, bakso ikan, irisan "kue" udang+ikan, taoge rebus, daging kepiting dan pangsit goreng. Kalau saya waktu itu lebih naksir kwetiaw yam-nya. Toppingnya sama dengan mie kepiting hanya basic-nya kwetiaw.

Kwetiaw goreng kepiting, isinya sama seperti topping bakmi dan kepitingnya hanya berupa suwiran :D
Ada lagi kwetiaw goreng atau mie goreng, ada juga yang versi kuah. Kebetulan kemarin nyokap makan kwetiaw gorengnya. Semuanya enak! Apalagi ditambah sambal khas Pontianak yang pedas. Hmmh! Dijamin nggak akan cukup 1 porsi! Ini ada juga foto dari kedai mie lain, namanya Dju Huei. Kemarin ini memang puas-puasin makan mie kepiting. Kalau versi Dju Huei, mienya lebih halus daripada A Ti, porsinya juga lebih besar, tapi harganya harga Jakarta, mahal.. hehehe. Kalau di A Ti cukup IDR15.000-17.000 seporsi, di Djue Hui bisa IDR20.000-22.000 per porsi.


2. Choi pan AKA Chai kue
Saya sempat berpikir kalau Choi pan adalah makanan yang awam, ternyata banyak juga yang nggak tahu apa yang dimaksud dengan choi pan ini. Choi pan adalah sebutan dalam bahasa Hakka, harafiahnya berarti Kue Sayur (Choi = sayur, pan = kue). Dan pada dasarnya memang kue ini isinya sayuran.

Original choi pan kukus, wuenak!
Kuenya sendiri terbuat dari adonan tepung beras yang dicampur sedikit sagu, lalu nanti diisi dengan sayuran yang sudah dicacah dan ditumis, kemudian dibentuk seperti dimsum dan dikukus sampai matang. Resepnya ada di sini bagi yang mau mencoba peruntungan di dapur :D

Selain versi kukus, ada juga choi pan goreng. Jadi setelah matang dikukus, choi pan-nya digoreng lagi sebentar dengan penggorengan datar dan sedikit minyak. Kulitnya jadi crunchy, enaaak banget!

Penampakan choi pan goreng, kulitnya jadi sedikit garing.
Proses penggorengan choi pan.
Hampir di setiap sudut di Pontianak bisa ditemui Choi pan dengan berbagai varian, dan harganya benar-benar murah (paling mahal 1500 perak)! Asal jangan ketahuan ya kalau kita ini turis, karena penduduk sana senang sekali menaikkan harga kalau mereka tahu kita dari Jakarta :(

Kemarin ini juga sedang heboh-hebohnya choi pan panas di Ponti. Katanya sih enak banget, ternyata setelah dijajal, bedanya hanya choi pan-nya disajikan panas langsung dari kukusan. Hehehe.. sudah gitu harganya malah lebih mahal karena ukurannya jadi setengah ukuran normal. Belum lagi kalau kita pesan, harus menunggu lumayan lama.

Choi pan panas, lihat deh ukurannya itu hanya sekali hap. Begitu habis, harus nunggu lama lagi untuk repeat order.
Ujung-ujungnya sih fenomena choi pan panas ini nggak berhasil merebut hati saya. Saya tetap lebih suka choi pan normal (dengan ukuran normal). Untuk warga Jakarta yang penasaran dengan choi pan, silakan main ke daerah Jembatan Lima, disini ada Ci Ango yang choi pan-nya super sedap! Nggak kalah, bahkan lebih enak ketimbang yang saya makan di Ponti. Terakhir saya beli juga hanya 1500 per piece. Murah kan?


3. Siomay Non Halal
Karena bahan bakunya daging babay, hehehe.. tapi memang yang satu ini khas Pontianak banget. Citarasanya lain dari siomay Bandung atau siomay ikan. Yang ini padat, gurih, dan lebih bertekstur kalau dibandingkan dengan siomay Bandung yang mulus kenyal. Saus cocolannya juga bukan sembarang saus.


Standarnya, siomay ini dimakan bareng cuka hitam dan saus kuning (sepertinya sih mustard yang diencerkan). Kalau suka pedas, tinggal ditambahkan saus cabe yang menggigit rasanya. Duh.. sambil dibayangkan sambil ngiler nih.. hehehe. Harga per buahnya sekitar IDR1300-1500, kalau di Jakarta bisa ditemukan di daerah Sunter atau Pangeran Jayakarta, tapi harganya pasti lebih mahal.

4. Kwecap
Yang disebut kwecap adalah hidangan yang isinya lembaran kue persegi (mirip kwetiaw tapi lebih lebar dan pendek) yang dimakan bareng kaldu berisi kulit babay. Standarnya sih kuah kaldunya itu hanya berisi kulit babay, tapi ada juga versi lengkapnya yang ditambahkan tahu, bakso ikan, dan pastinya ada kacang kedelai yang direbus bareng kuahnya. 
Isinya : lembaran putih seperti kwetiaw, kulit babay, tahu goreng yang direbus, kacang kedelai rebus.
Nah, yang menentukan enak atau tidaknya kwecap itu adalah kulit babaynya. Jaman sekarang -menurut penjual kwecap yang kemarin saya interogasi- sulit sekali mencari kulit babay yang bagus. Kadang untuk proses pengeringannya sering bermasalah (biasanya kulit babay dijual dalam kondisi kering), jadi kualitasnya jelek. Aromanya jadi tengik.

Saya juga cukup picky kalau soal kwecap, karena nggak semua orang bisa bikin kwecap yang enak. Makanya waktu berhasil ketemu si Om penjual kwecap ini, saya senang banget. Dia biasa jualan hanya sampai jam 10 pagi, waktu itu saya datang sudah hampir jam 10 dan untungnya kwecap-nya masih ada :D
Seporsi besar seperti ini cuma IDR 8.000. Murah ya? Huhuhu.. sayang perut saya cuma satu.


5. Kembang Tahu
Jauh-jauh pulang kampung, yang dimakan masih kembang tahu? Hehehe.. saya memang punya hobi aneh soal kembang tahu. Apalagi di Pontianak ini, kembang tahunya masih tradisional, jadi rasanya enaak. Kembang tahu ini jualan di depan salah satu SD di Siantan. Jajanan yang unik memang biasanya berkumpul di depan sekolahan. 

Kembang tahu ala Pontianak ini biasanya dimakan dengan kuah susu kedelai, tapi kemarin saya makannya versi normal, padanannya hanya kuah gula putih + jahe yang encer, lalu di atasnya baru ditambahkan butiran gula merah.


Seporsinya hanya IDR 2500, kembang tahunya sangat lembut, dan kuahnya juga nggak bikin eneg karena encer dan tidak terlalu manis. Yang membedakan kembang tahu ini dari kembang tahu Jakarta adalah wangi kedelainya yang cukup terasa. Makanya betul-betul susah mencari kembang tahu model begini di tempat lain.

7. Tahu
Orang Pontianak cukup fanatik dengan tahu dan kedelai. Kebanyakan kerabat saya yang datang ke Jakarta tidak suka dengan tahu Bandung atau tahu Jakarta, karena mereka sudah biasa makan tahu yang santer dengan bau kedelai di Pontianak. Saking tajamnya bau kedelai di tahu Pontianak, bisa-bisa untuk yang nggak biasa makan atau yang nggak suka kedelai, bisa muntah mencium baunya. Hehehe.. saya bukan mau menjelek-jelekkan, tapi memang seperti itulah bau khas tahu Pontianak. Kalau nggak bau kedelai, malah nggak laku.

Tahu yang dijual di pasar, masing-masing dibungkus daun.
Teksturnya juga lebih padat dibanding tahu Bandung. Saya sendiri suka sekali dengan tahu Pontianak, karena terasa sekali bau kedelainya dan teksturnya juga pas, padat tapi tetap lembut. Kalau memang suka tahu, boleh juga sekali-sekali mencicipi tahu Pontianak ini, buat saya yang penggemar kedelai sih tahunya enak dan tiada duanya!

8. Langsat
Alias duku. Saya beruntung sekali bisa mencicipi duku alias langsat Pontianak, memang harganya agak mahal (saya lupa persisnya berapa) tapi rasanya sih betul-betul mantap!

Bapak Penjual sedang memilihkan duku dan membagi tips supaya dukunya nggak cepat busuk.
Daging buahnya manis semua dan pas empuknya, nggak benyek atau terlalu lembek. Beda dengan yang biasa saya beli di Bogor, buahnya kecil, asem dan daging buahnya banyak yang terlalu lembek.
Kata bapak penjualnya, kalau mau dukunya awet, jangan sampai kepanasan. Jadi begitu sampai rumah, mesti digelar atau ditaruh di dalam bakul biar ada ventilasinya.

9. Pakis
Yang satu ini sih wajib dicoba deh kalau ke Pontianak. Soalnya sejauh ini saya belum pernah ketemu pakis semacam ini di manapun. Ada sih yang jual di depan Kebun Raya Bogor, tapi pakisnya yang udah tua dan keras, itu sih malah nggak enak rasanya.


Pakis yang penampilan dan rasanya mirip pucuk labu.
Sebenarnya ada 3 jenis pakis yang biasa dikonsumsi di Pontianak, ada yang jenisnya banyak daun dan tangkainya agak panjang, mirip pucuk labu. Ada lagi yang hanya terdiri dari tangkai, ujungnya melingkar. Yang ini biasanya agak berlendir dan rasanya garing kalau ditumis. Yang terakhir, bentuknya memanjang lurus dan teksturnya berserat. Kalau ini nama lokalnya Kek Lam.

Penampakan Kek Lam / Pakis, warnanya bukan hijau segar tapi rasanya enaak!
10. Asin-asinan
Entah kenapa orang Pontianak suka sekali mengasinkan bahan makanan. Mulai dari berbagai jenis ikan, cumi, telur, udang, sawi, dan lain-lain. Selain diasinkan sampai kering, ada juga cara mengasinkan model basah, hasil jadi produknya disebut "Koy" dalam bahasa Hakka.

"The ultimate" ikan asin! Yang ini enak banget!
Jejeran berbagai jenis ikan asin, ikan teri, dan udang kering.
Nah, yang model basah ini mungkin sekilas mirip produk asinan kalengan yang biasa dijual di supermarket, biasanya rasanya asin dan kalau dibeli, produknya terendam air "asinan"-nya.
Yang di depan ini udang (ha koy), belakangnya itu cumi (sotong koy).
Cara mereka mengolah produk asin-asinan ini juga macam-macam. Misalnya ikan asin, digoreng biasa sampai dikukus dengan kuah santan. Lalu asinan basah yang terbuat dari udang kecil-kecil, namanya ha koy. Ini biasanya dikucuri air jeruk calamansi, diberi irisan cabe dan sedikit gula. Cocok banget untuk teman makan lauk berkuah.
Seperti biasa, kalau ngomong soal makanan, jadinya suka keasyikan :D
Demikianlah Top 10 makanan wajib coba di Pontianak ala saya. Sebenarnya masih banyak lagi yang belum "terliput", makanya doain saya balik lagi ya kesana, supaya ada part 2-nya.. hehehe