Cari Posting Lainnya

Jumat, 16 Desember 2011

Sujebi (Mie Sobek Korea)

Masih demam masakan Korea, sejak ketemu Maangchi kemarin saya jadi lebih sering lagi praktek resep-resep yang ada di situsnya Maangchi. Semua resepnya terasa enak, belum sampai ke mulut saya pun sepertinya semua resep yang ada disana sudah terbayang rasanya.

Beberapa waktu yang lalu, karena saya lagi malas makan yang berbumbu, saya pun berniat mempraktekkan resep yang simple, dan pilihannya jatuh ke Sujebi. Dari resep yang saya baca, pengerjaannya mudah sekali dan sepertinya sangat unik karena sujebi ini adalah sejenis hand-torn noodle alias mie yang disobek dengan tangan. Videonya pun hanya saya lihat 1 kali, karena benar-benar mudah sekali pengerjaannya.

Meski keliatannya bening, tapi rasanya cukup "rich" untuk hidangan sepinggan.
Menurut Maangchi, resep ini didapat dari neneknya yang sangat lihai memasak. Jaman dulu, kehidupan mereka sederhana, jadi sujebi yang hanya dibuat dari bahan-bahan sederhana ini dapat menghangatkan suasana rumah karena proses pembuatannya yang dikerjakan beramai-ramai dan rasanya yang sedap.

Tanpa pikir panjang, saya catat resepnya dan langsung praktek! Kebetulan semua bahannya ada di rumah (memang sudah takdir ya.. hahaha). Pertama-tama saya membuat mie-nya, yang hanya dibuat dari terigu, seidikit minyak dan air, tanpa telur. Menguleni adonannya cukup menguras kalori, saya tambah penasaran dengan hasil akhirnya. Kalau sampai rasanya nggak enak, rasanya bisa nangis bombai.. hehehe soalnya membuat mie-nya saja sudah kerja keras.

Sesudah mie-nya jadi, saya beralih ke supnya yang ternyata super mudah. Saya berani jamin, asalkan bahan-bahannya lengkap, memasak sup ini semudah memasak mi instan. Rasanya pun lebih enak, lebih "rich", dan pastinya lebih sehat. Setelah dimakan pun, rasa kenyangnya tahan lama dan nyaman. Tidak terasa begah atau terlalu kenyang. Tapi cukup.

Asiknya lagi, ternyata resep untuk mie-nya bisa untuk 4 porsi. Hehehe.. jadi saya simpan deh sisa yang 2 porsi untuk dimakan keesokan harinya. Lumayan, sekali menguleni bisa untuk 2 kali makan :D
Setelah matang, rasanya jauh sekali dari bayangan saya! Yang tadinya saya pikir bakal hambar, ternyata malah kaya rasa. Kaldu yang "cuma" dibuat dari cumi asin (harusnya ikan teri), bisa menjadi kaldu yang enak hanya karena ditambah cincangan berbagai bawang. Nggak percaya kan? Silakan praktek :D

SUJEBI (Korean Hand Torn Noodle)
Resep asli dan videonya bisa dilihat disini.


Bahan mie (untuk 2 porsi besar atau 4 porsi sedang) :
2 cup terigu serbaguna
1/2 sdt garam
1 sdm minyak sayur
3/4 cup air

Method :
1. Dalam mangkuk lebar, campur semua bahan di atas. Uleni dengan tangan selama 10-15 menit sampai adonannya menjadi empuk dan kalis. *Bisa juga menggunakan food processor (pisaunya diganti dengan pisau khusus untuk membuat adonan), masukkan semua bahan dan proses selama 1 menit sampai adonan kalis.
2. Sisihkan adonan di wadah tertutup (saya pakai lock&lock), simpan di dalam kulkas sambil mempersiapkan supnya.

Bahan sup (untuk 4 porsi sedang) :
10 ikan teri kering (saya ganti dengan 5 cumi asin yang berukuran agak besar), bersihkan bagian dalamnya.
Konbu (rumput laut untuk kaldu) sebesar 10x15cm (kemarin saya skip, dan airnya saya ganti dengan air+kaldu jamur).
1 batang daun bawang, iris.
2 buah kentang ukuran sedang, kupas dan potong dadu besar.
*kalau nggak pingin supnya terlalu "kenyang", boleh diganti dengan segenggam jamur merang.
1/2 cup bawang bombay cincang (kurang lebih 1/2 buah yang ukuran besar).
3 siung bawang putih, cincang.
1 sdm kecap ikan.
10 cup air.
minyak wijen secukupnya.
1 sdt gula.

Method :
1. Masukkan air ke dalam panci, tambahkan konbu dan ikan asin. Masak sampai mendidih kira-kira 15-20 menit dengan api besar. Setelah mendidih, kecilkan apinya dan masak lagi selama 20 menit.
2. Matikan api, keluarkan konbu dan ikan asin dari kaldu.
3. Keluarkan adonan mie, uleni sebentar supaya adonan lentur. Sisihkan
4. Tambahkan kentang, bawang bombay dan bawang putih ke dalam kaldu.
5. Nyalakan api dan didihkan selama 10 menit dengan api sedang.
6. Potong-potong konbu seukuran bite size. Masukkan ke dalam kuah sup. Tambahkan kecap ikan dan gula. Koreksi rasanya, kalau kurang asin bisa ditambah garam.
7. Setelah kuah sup siap, ambil segenggam adonan mie, lebarkan sampai setipis mungkin kemudian sobek adonan dengan tangan dan langsung cemplungkan ke dalam sup. (*Usahakan untuk menjaga ukuran mie pada saat menyobek supaya tidak terlalu besar). Ulangi proses menyobek sampai adonan habis.
8. Tutup panci dan biarkan mendidih selama beberapa menit supaya mienya matang.
9. Buka tutup panci, tambahkan irisan daun bawang dan minyak wijen (kurang lebih 1 sdm). Matikan api.
10. Sajikan panas. Enak sekali kalau dimakan dengan kimchi.

Kalau kimchi-nya dicemplungkan seperti ini, rasanya jadi mirip kimchi ramyun, mi instan Korea yang pedas itu lho.
NOTE :
*Sujebi ini sebenarnya mudah divariasikan, kemarin saya mencemplungkan segenggam taoge. Rasanya tetap enak. Besoknya saya buat lagi, dan kentangnya diganti jadi jamur merang :D

Rabu, 07 Desember 2011

Gathering with Maangchi

Belum sampai sebulan saya browsing resep di situs maangchi waktu saya tahu kalau akan diadakan Gathering untuk para reader-nya. Maangchinya sendiri akan datang secara pribadi ke setiap gathering yang ternyata diadakan di beberapa kota di berbagai belahan dunia. Wow! Gathering-nya sendiri diberi judul Gapshida!
Cerita selengkapnya soal Gapshida ada di www.maangchi.com yaa.
Waktu tahu hal ini, saya sempat ragu-ragu apakah saya boleh ikutan. Dan setelah menghubungi contact person untuk gathering Indonesia--yang ternyata sangat teramat ramah dan bersahabat- syaratnya cuma 1 : harus membawa homemade dish, minimal 1 macam ke gathering tersebut. Mudah sekali!

Dan akhirnya setelah mendaftar dan deg-degan selama seminggu penuh, sampailah saya di gathering itu. Karena diadakan di weekdays, yang berhasil datang hanya kurang lebih 10-15 orang. Saya sendiri berhasil meyakinkan diri untuk melakukan perjalanan panjang dari Bogor ke Meruya. Hehehe..

Untungnya begitu sampai, saya disambut saaaangaaat baik oleh Tuan rumah dan Maangchi. Kalau diingat lagi, rasanya kayak mimpi. Biasanya saya harus streaming youtube dulu untuk nonton aksi Tante Maangchi, hari itu saya cipika-cipiki dan ngobrol paanjaaaang lebar soal masakan face to face dengan dia. Benar-benar seperti ketemu seleb pujaan.

Ngobrol intens soal masakan.
Dia sangat-sangat-sangat passionate soal masakan Korea. Begitu obrolan soal masakan dimulai, waktu benar-benar jadi tidak terasa lagi. Host kami malam itu juga sama seperti saya, mendadak menemukan passion di masak-memasak dan kami betul-betul dijodohkan oleh passion kami itu karena mendadak kami jadi teman.

Maangchi sendiri sampai takjub karena begitu banyak orang pecinta masak saling berpapasan melalui website-nya dan ujung-ujungnya bisa ngobrol seolah-olah mereka sudah saling kenal lama. Semua hanya karena kami suka memasak. Awesome!

Maangchi always had a funny story to tell.
Semakin larut, yang datang semakin ramai dan mereka masing-masing membawa makanan homemade seperti yang sudah diminta. Ada yang bawa soto, martabak telor, bahkan ada yang menghadiahkan keripik Maicih untuk Maangchi. Kebanyakan mereka membawa makanan Korea yang resepnya didapat dari situs Maangchi. Saya sempet menyesal, karena saya membawa Eggtart dan Sagu Keju. Saya pikir karena setiap hari dia sudah makan makanan Korea, akan lebih baik kalau saya bawa hidangan Indonesia. Ternyata Maangchi-nya lebih suka hidangan Korea.. hehehe. Ditambah lagi, dia ternyata nggak begitu suka desserts.

Bermacam-macam makanan memenuhi meja makan.
Tapi meski begitu, Sagu Keju saya dipuji dan sempat dimintai resepnya. Saya juga sempat cerita panjang lebar soal NCC, komunitas memasak yang saya ikuti. Sempat cerita juga soal prosesi HMFF yang sama seperti malam itu, dimana semua orang membawa potluck untuk dicicipi beramai-ramai. Maangchi sendiri cukup kaget waktu saya cerita soal HMFF dan dua belas ribu anggota NCC :D

Semua orang kenyang dan hepi, it was an awesome night!
Hanya 1 hal yang saya sesalkan di acara ini, waktunya kurang lama. Hahaha.. Jam 8 malam, saya sudah harus ngebut menuju stasiun untuk mengejar kereta ke Bogor. Jadi ngobrol-ngobrol kami harus dilanjutkan melalui facebook. Setelah sesi foto-foto yang heboh dan dibekali sekantong besar kimchi buatan Mariska sang Host, akhirnya saya pulang ke Bogor dengan hati yang hangat. Betul-betul malam yang tidak akan saya lupakan.

Thank you Maangchi for your Gapshida! Semoga nanti ada kesempatan untuk bertemu lagi.

Rabu, 16 November 2011

Kue Lobak

Akhirnya kesampaian juga ikutan event di NCC, setelah sebelumnya selaluuu aja ketinggalan. Kali ini event-nya benar-benar seru, namanya Chinese Food Week. Semua resep canggih yang biasanya cuma bisa dipelototin di menu resto mahal seliweran di milis selama 1 bulan poll! Mulai dari yang kukus, tumis, simpel sampai super rumit. Coba aja main ke link Chinese Food Week, pasti merinding deh ngeliat semua resep yang ada disana. Partisipasi anggota NCC betul-betul menakjubkan!

Sayangnya saya cuma sempat menyumbang 1 resep. Padahal tadinya mau submit resep sebanyak-banyaknya secara yang diikutkan itu resep sehari-hari, nggak susah dan sekalian bisa memperkenalkan resep tradisional khas daerah masing-masing.

Setelah proses audisi yang lumayan panjang.. hehe.. akhirnya resep yang saya pilih untuk event ini adalah Kue Lobak.
Fotonya kurang oke nih.. terlalu dekat >.<
Kue Lobak ini pertama kali saya makan pada waktu adik saya bawa oleh-oleh dari negeri seberang. Waktu itu dia bawa beberapa frozen food produksi Carrefour sana, dan salah satunya adalah Kue Lobak. Pertama kali dengar namanya, saya langsung bergidik.. Ih, pasti bau lobak deh. Baunya itu sudah terbayang dan bikin saya enggan membayangkan rasanya.

Begitu dikeluarkan dari kemasan, bentuknya kubus dan harus diiris setebal 1 cm-an, lalu digoreng dengan sedikit minyak supaya permukaannya crispy. Selesai digoreng, diberi saus semacam kecap kental (yang juga dibawa dari negeri seberang) terus siap disantap. Makan segigit, bayangan saya soal bau lobaknya langsung hilang. Malahan baunya dan rasanya jadi mirip-mirip somay (?) yang jelas, rasanya lumayan enak, teksturnya padat dan mengenyangkan untuk snack atau sarapan.

Sesudah dikukus, dipotong-potong, masuk kulkas. Tahan sampai 2 minggu lho.
Terus terang saya nggak begitu suka dengan cita rasa si saus kecap kental-pendamping itu, dan lagipula di Indonesia sini saus itu sepertinya nggak ada yang jual.. hehe. Jadi kemarin pas saya praktek resep kue ini, saya hanya menggunakan saus tomat+sambal botolan untuk pelengkapnya. Bisa juga didampingi dengan saus sambal Korea (gochujang) kalau punya stoknya :)

Nah, resep yang sempat saya coba ada 2 macam. Metodenya pun berbeda. Jadi saya cantumkan yang menurut saya lebih oke aja yah. Resep aslinya didapat dari www.kaskus.us, forum cooking tapi sudah lupa thread-nya yang mana. Untuk pemilik resep aslinya, saya ijin copas disini yaa..

KUE LOBAK
Bahan (utk 1 loyang ukuran 18x18 cm) :
1 kg lobak putih uk. sedang (saya modifikasi dengan menambahkan 1 buah wortel supaya warnanya cantik).
1 batang daun bawang, diiris.
500 gr tepung beras
25 gr tepung maizena
500 ml air















Cara pembuatan :
1. Kupas dan cuci lobak (dan wortel kalau pakai wortel), parut.
2. Tumis parutan lobak & wortel dengan minyak secukupnya sampai harum, bumbui dengan garam, sedikit lada dan kaldu bubuk (saya pakai kaldu jamur). Setelah lobak dan wortel agak layu, masukkan irisan daun bawang (bila pakai).
3. Dalam wadah, larutkan tepung beras dan maizena dengan 500 ml air. Perhatikan konsistensi adonannya, jangan terlalu encer. Adonan harus agak kental.
4. Campurkan lobak + wortel yang sudah ditumis ke adonan tepung, aduk rata. Tuang ke loyang.
5. Ratakan adonan, kukus selama 30 menit dengan api sedang sampai matang.
6. Angkat, tunggu sampai agak dingin. Potong-potong sesuai selera.
'

7. Goreng dengan sedikit minyak sampai permukaan kue menjadi agak kecoklatan dan garing. Angkat dan sajikan dengan saos/sambal botolan.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Candied Sweet Potato

Gara-gara penasaran banget sama Kimchi, dan sempet gagal total bikin kimchi *hiks*. Jadi nyangkut ke websitenya Maangchi. Tadinya cuma baca-baca resep kimchi soalnya untuk kimchi aja resepnya ada macem-macem. Tapi setelah akhirnya beberapa kali praktek kimchi dan nggak pernah berhasil bikin yang enak, akhirnya saya nyerah dan mengobati sakit hati dengan melihat-lihat resep si Maangchi yang lain.

Yang bikin saya betah di webnya itu adalah karena dia rajiiin banget, hampir di tiap resep ada video-nya. Udah gitu, dia type yang emak-emak pisan, nggak pake basa-basi seperti ahli masak pada umumnya, semua gerakannya pure ala Ibu-ibu rumahan. Malah ada beberapa video yang menurut saya menunjukkan kalau dia sebenarnya agak ceroboh.. hehehe. Tapi itu justru yang bikin videonya nggak membosankan dan asik ditonton.

Tambahan lagi, saya ini termasuk orang yang berpendapat kalau masak itu nggak boleh terlalu perfect, kalau kayak gitu nanti makanannya malah jadi nggak punya "jiwa". Jadi masih okelah kalau juru masaknya sedikit clumsy.

Si Maangchi ini sebenarnya tante yang funky abis, tapi entah kenapa dari cara dia pegang pisau, cara dia masak dan ngebumbuin masakannya, saya punya feeling kalau masakannya pasti enak. Nah, tadinya saya penasaran banget sama resep-resep beratnya. Tapi karena sebagian besar melibatkan bahan yang nggak dijual disini (dijual disini pun harganya aduhai mahalnya), jadi saya beralih ke appetizer dan snack.

Kebetulan ketemu resep Candied Sweet Potato, jadi inget 1 tahun lalu pernah dibagi sama adik yang kuliah di UI. Waktu itu dia euforia di pasar kaget mahasiswa yang diadakan sama mahasiswa asing UI. Dia jajan banyaak banget snack Korea, salah satunya si Sweet Potato ini. Dulu pas pertama kali makan, takjub banget sama rasanya, dan penasaran banget sama cara buatnya. Akhirnya setelah ketemu resepnya, buru-buru dipraktekin.

Kalau dilihat sih penampakannya mirip Ubi yang dikasih gula merah biasa. Tapi setelah dicicip, sesuai namanya tekstur luarnya memang crunchy ala permen. Ajaib deh, rasanya takjub dengan resep yang simpel ini bisa menghasilkan sesuatu yang unik.

CANDIED SWEET POTATO
Resep aslinya plus videonya ada disini
Setelah bikin ini, kayaknya spun sugar jadi nggak kelihatan susah :D
Bahan :
1-2 buah (kurang lebih 500gr) ubi merah *pakai ubi putih juga OK
3-4 sendok makan gula pasir
minyak untuk menggoreng
biji wijen hitam (optional, tapi kalau ada, bisa menambah cita rasa)

Method :
1. Kupas ubi, cuci dan potong-potong. Kalau aslinya ngikutin tante Maangchi, potongnya serong-serong mirip segitiga yang sisinya membulat (bahasanya ribed yah), jadi nggak terlalu tebal. Caranya ubi dibelah 2 atau 4 sampai ukurannya agak kecil, lalu diiris menyerong, tebalnya kurang lebih 1 cm. Tapi sepertinya diiris memanjang seperti bentuk stik french fries juga OK.
 2. Goreng ubi dengan api agak besar sampai kuning kecoklatan. Angkat dan sisihkan.
Potongannya agak menyerong jadi ada sudut yang tebal dan tipisnya.
3. Coating gulanya : Panaskan sedikit minyak, kurang lebih 1 sendok makan. Ratakan ke seluruh permukaan penggorengan. *Kalau bisa pakai penggorengan teflon supaya nggak lengket*
4. Sendokkan 3-4 sendok makan gula pasir ke atas minyak sambil disebar supaya nggak menggunung di satu sisi. Panaskan dengan api sedang sampai gulanya meleleh. Jangan diaduk ya, cukup goyang-goyangkan aja penggorengannya supaya gulanya meleleh semua.
5. Setelah gulanya meleleh, goyang-goyangkan penggorengan sampai gula berubah jadi kecoklatan.
6. Masukkan ubi goreng ke lelehan gula dan aduk cepat supaya semua permukaan ubi ter-cover gula. Jangan kelamaan ya, nanti gulanya mengkristal, jadi seperti gemblong deh.. hehe.
7. Angkat, pisah-pisahkan jangan sampai ubinya saling menempel karena kalau nempel nanti begitu agak dingin lapisan gulanya mengeras dan ubinya jadi 1 bongkahan besar..hehehe. Taburi wijen hitam kalau suka dan sajikan.

Minggu, 09 Oktober 2011

Interfood 2011

Tahun ini dapat kesempatan untuk ikut pameran Interfood gratis.. hehe. Kalau tahun kemarin cuma bisa ngiler-ngiler baca testimoni orang-orang di milis, tahun ini ngiler hampir di setiap stand yang ada di pamerannya. Rasanya benar-benar kayak masuk ke surganya orang baking. Hepiii banget.. jangan-jangan saya ini food fetish ya? Hahahaha.
Stand Mu Gung Hwa yang selalu rame antriannya. Kalau orang lain sibuk demo, mereka sibuk jualan :D
"Dapur"nya Unilever, MCnya heboh.
Dibandingkan pameran Food and Hotel Indonesia kemarin, saya lebih puas datang ke Interfood. Mungkin karena tema pamerannya lebih cocok ke kalangan baking. Demonya juga banyaaak banget. Sampe rasanya pengen membelah diri jadi 5 atau 6 sekaligus biar bisa nonton demonya. Rata-rata mereka manggil chef yang skill-nya sudah excellent untuk mendemokan produk-produk mereka. Dan hebatnya, hampir setiap stand punya "dapur" masing-masing. Duh kebayang deh capeknya bawa oven sebesar itu ke pameran.

Salut sama Baristanya, latte art-nya cantik banget. Begitu selesai foto, saya disuguhi 1 shot espresso. Yum!
Dan yang paling asik, kita bisa mencicipi produk dari berbagai macam supplier. Duh, seneng banget deh. Soalnya saya termasuk yang pemilih kalau membeli produk. Bukan salah saya juga jadi picky, soalnya sekarang kan produk ada buaanyaaak. Jadi sebagai konsumen, saya pengen mengalokasikan dana saya di produk yang tepat. Apalagi saya juga jualan.. jadi saya juga harus jaga brand saya dan memastikan kalau produk yang saya pakai cocok untuk hasil akhir yang saya inginkan.

Nggak pernah nyangka kalau roti bisa jadi secantik ini.

Close Up displaynya stand Lumbung.
Makanya datang ke pameran seperti Interfood benar-benar sangat membantu bagi saya. Apalagi kalau supplier-nya baik hati mau mendengarkan masukan dan keluhan pelanggan. Sebagai konsumen, senang juga lho kalau bisa membantu supplier supaya lebih maksimal.. hehehe. Kalau si produsen atau supplier bisa maksimal, konsumen juga jadi lebih nyaman.

Setiap kali ke pameran makanan seperti ini, saya pasti nggak pernah puas. Rasanya meski seharian keliling di dalam pameran, masih ada aja yang belum sempat dilihat-lihat. Apalagi kalau di stand tertentu, ada produk yang baru atau yang menarik. Wuahh.. pasti proses interogasinya juga panjang tuh. Hahaha.

Demo masak di stand Mu Gung Hwa.
Keuntungan lainnya kalau datang ke pameran seperti ini, kita bisa mempelajari seberapa maksimal suatu produk bisa didayagunakan. Duh bahasanya.. misalnya kemarin saya ke stand Mu Gung Hwa yang jualan produk-produk impor dari Korea. Ada Deobokki alias Rice Cake-nya orang Korea. Sebelum beli, bisa tanya-tanya dulu sepuasnya sama SPG Mu Gung Hwa mengenai cara mengolahnya.

Deobokki alias Rice Cakenya Korea.
Dulu saya pernah diberi hadiah saus pedas Korea yang namanya Gochujang. Karena hanya diberi tapi nggak diajari cara pakainya, akhirnya jadi nggak maksimal dan hampir separuhnya terbuang percuma. Sayang kan?

Ada lagi stand yang mendemokan cara masak soba (mie jepang) instan, dan karena nonton demonya, saya baru ngeh kalau soba instan yang sudah direbus, harus dimasukkan ke air dingin segera sesudah diangkat dari rebusan. Hal ini untuk mencegah  si soba overcooked.

Hiasan Coklat yang wah. Sepertinya sih dari coklat couverture.
Di stand yang menjual berbagai cokelat, saya belajar kalau coklat couverture itu sebelum diolah harus didinginkan dulu. Tadinya saya sempat bingung, kok chef-nya bolak-balik menarik-ulur cokelat leleh dengan kape (?). Ternyata suhunya belum tepat, cokelatnya belum cukup dingin untuk dibentuk. Kata si chef, kalau suhunya belum pas, untuk couverture akan fatal akibatnya. Bisa-bisa cokelatnya nempel di cetakan. Atau bisa juga rasanya malah berubah. Memang sih, baca di milis juga couverture itu handling-nya agak tricky.

Salah satu display kue di Interfood.
Display Bolu Kukus Mekar yang cantik di stand Ny. Liem.
Display Bag Cake di stand Ny. Liem. Kayak betulan.
Salut sama yang ini! Display di stand Trans. Naganya dari buttercream.
Display kue-kue dekor di standnya Trans.
Jalan lagi ke standnya TRANS, yang terkenal dengan pewarnanya, saya diberi tester banana cake yang wangi dan yummy. Saya curiga banana cake itu hasil dari tepung premix. Saya nggak sempat nanya ke salesnya karena pas tester itu dibagikan, saya sedang asyik nonton demo figurin fondant. Hehehe.. pas pulang ke rumah dan baca-baca brosurnya, barulah saya tahu kalau TRANS ini punya produk tepung premix baru dan macam-macam variannya. Wow.. kalau benar itu premix, salut deh. Rasanya enak banget dan wanginya juga nggak pabrikan.
Tangannya luweees banget, kerjanya juga telaten.
Demo fondant, chef-nya jago buanget!

Walau kaki lecet sesudah jalan-jalan selama 6 jam, saya belum sempat mengelilingi keseluruhan pameran. Huhuhu.. sayangnya saya sudah harus pulang. Stand terakhir yang membuat saya duduk dan gak pengen pulang itu standnya PALMIA. Ada chef nyeleneh yang sedang demo berbagai resep kue.

Si Chef nyeleneh lagi bagi-bagi tips baking.
Tadinya saya naksir dengan display kue yang ada di standnya, semuanya cantik-cantik. Dan sejauh itu, menurut saya dekorasi kue Palmia adalah yang paling bagus, meski idenya hampir mirip dengan dekorasi stand lain, tapi eksekusinya rapih.

Display Palmia yang bikin jatuh cinta.
Trend terbaru cake decor : macaroons.
Cupcakesnya cantiiik!
Menurut saya, kue yang berhasil itu gak hanya cantik, tapi membangkitkan selera juga.
Suka banget sama kue yang ini, cuma liat hiasannya langsung kebayang rasanya yang yummy.
Dari hanya melototin display, saya mengintip demonya dan akhirnya duduk disitu sampai akhirnya saya diseret pulang oleh suami. Hiks.. padahal masih banyak yang belum sempat saya interogasi.
Tahun depan, saya berikrar pasti akan datang lebih pagi lagi, dan pulang lebih malam lagi!

Sabtu, 17 September 2011

Gemblong = Puncak

Saya ingat dulu waktu masih kecil, Puncak itu tempat yang sangat menyenangkan, sejuk, banyak pepohonan, dan rasanya dulu bepergian ke Puncak itu mewah banget. Dulu nyokap sering banget bawa bekal nasi uduk, ayam goreng plus sambal-sambal andalannya kalau mau pergi ke Puncak dan entah kenapa kalau makan di sana, semuanya terasa enak. Hehehe..

Yang paling sering menguras uang jajan saya di Puncak itu Rujak Bebeug dan Gemblong. Mungkin karena penjualnya bertebaran dimana-mana, dan 2 menu itu seolah-olah dicap jadi ciri khasnya Puncak.

Gemblong jaman dulu rasanya masih enak, harganya juga murah. Sekarang, tiap kali ketemu penjual Gemblong, pasti ngeri duluan kalau lihat warnanya. Lagipula bentuknya juga udah nggak menggiurkan lagi. jadi malas deh belinya. Padahal kepingin banget.


Waktu itu karena saking kangennya sama Gemblong, sampe bela-belain beli di depan Bogor Permai, satunya kalau nggak salah udah 1000 lebih (atau itu harga wiken, nggak tau juga ya.. hehehe). Begitu dimakan, memang sesuai ekspektasi : keras dan gak karuan. Hahahaha.. memang pas lihat bentuknya juga sudah kebayang, pasti nggak enak deh.

Akhirnya kemarin pas ada heboh-heboh di milis soal Gemblong, resepnya dicontek, dibaca baik-baik. Hey!! Ternyata (selalu aja ternyata), nggak susah tuh! Semangat deh, besoknya langsung beli bahan terus praktek.

Hasil jadinya?? Memuaskan! Jauh lebih memuaskan kangen saya dibanding Gemblong yang saya beli di depan Bogor Permai.
Kalau lapisan gulanya terlalu tebal jadi agak keras kulitnya.

Yang saya bikin kemarin itu Gemblong Ketan Hitam, soalnya keliatannya unik. Dan ternyata sama enaknya dengan Gemblong biasa. Bedanya kalau yang biasa pakai gula merah, yang ini pakai gula pasir untuk "baju"-nya.

Oh iya, entah kenapa hasil akhirnya lebih enak pakai santan kemasan dibandingkan santan asli. Kalau yang pakai santan asli kurang legit, mungkin karena kemarin santan saya kurang kental ya..

Nih resepnya :

GEMBLONG KETAN HITAM
Pelopor resepnya ada disini nih.
 
Bahan:
100 ml santan, dari 1/2 butir kelapa (pake santan instan & jumlahnya ditambah 30 ml lagi)
1/2 sdt garam
150 gr tepung ketan hitam
150 gr tepung ketan putih
300 gr kelapa agak muda, parut
minyak untuk menggoreng

Lapisan:
150 gr gula pasir
3 sdm air
1/8 sdt garam

Cara Membuat :
  1. Masak santan dan garam diatas api sedang sambil diaduk hingga hangat (tidak perlu mendidih). Angkat.
  2. Campur tepung ketan hitam, tepung ketan putih, kelapa dan garam hingga rata. Tuangi santan hangat sedikit demi sedikit, sambil diuleni hingga adonan kalis dan dapat dibentuk.
  3. Bagi adonan menjadi 25 bagian sama banyak. Bentuk setiap bagian bulat lonjong. Lakukan hingga bahan habis.
  4. Panaskan minyak goreng yang banyak dalam wajan di atas api sedang hingga hangat. Masukkan beberapa buah gemblong, goreng sambil sesekali diaduk hingga mengapung (kalau saya, sampai agak garing). Besarkan api, lanjutkan menggoreng hingga gemblong matang, angkat dan tiriskan.
  5. Lapisan: masak gula, air dan garam dalam wajan di atas api sedang hingga kental dan berserabut. Kecilkan api, masukkan gemblong goreng, aduk cepat hingga seluruh permukaan gemblong terlapisi gula (jangan kelamaan nanti jadinya nggak cantik). Angkat dan sajikan.
Notes : 
* Bikin lapisan gulanya agak tricky. Kalo terlalu kental, gemblong jadi susah tersalut gula dengan rata. Jadi gunakan api sedang saja saat mencairkan gula & air, supaya gula tidak keburu jadi karamel dan masih cukup encer membalut gemblong.

Selasa, 13 September 2011

Tempe Ungkep Bumbu Kuning

Ramadhan kemarin harga daging naik banyak, jangankan gitu.. harga sembako aja naik. Gara-gara ini akhirnya jadi stop beli daging sama sekali dan mulai rajin browsing cari pengganti protein. Yang paling banyak dimakan sih tetep tahu-tempe plus telor. Dan untungnya saya doyan tempe.. hehe murmer dan enak sih rasanya. Sehat pula.

Ini tempenya udah ditopping sambel, jadi makin enaaak.
Nah, dari sekian banyak resep tahu-tempe yang udah dipraktekin, ada 1 yang juara banget nih. Aslinya dari resep ayam goreng, tapi ayamnya diganti tempe.. hohohoho.. memang jadi ibu-ibu harus kreatip.
Karena masaknya lumayan ribet, kemarin dibikinnya sekaligus banyak aja, trus tinggal simpen di wadah tertutup dan masuk kulkas. Nanti kalau mau dimakan, tinggal goreng deh.. gampang!

Tempe yang udah diungkep, masuk wadah trus simpen di kulkas.
Resepnya nyontek dari blognya Mbak Ria Icip-icip, suka banget sama blognya yang banyak resep tradisional, jadi bisa belajar. Terus terang kalo masak makanan Indonesia yang bumbunya macem-macem, suka lieur duluan baca resepnya. Sekarang sih, karena lumayan sering coba-coba, jadi udah lumayan naek nih levelnya.. hehehe.

Buat yang pengen coba, nih resepnya :

TEMPE GORENG BUMBU KUNING
aslinya Ayam Goreng Ala Mama-nya Mbak Ria 

Bahan :
1 ekor ayam, potong menjadi 12 bagian (ganti jadi 1 papan tempe, potong seukuran tempe goreng biasa)

400 cc air
1 lembar daun salam (kemarin ditambah jadi 3 lembar)
3 lembar daun jeruk (karena doyan, jadi ditambahin 3 lembar lagi)
garam secukupnya


Bumbu halus :
8 siung bawang merah
4 siung bawang putih
2 ruas kunyit
2 ruas lengkuas/laos muda (gak punya lengkuas, jadi diskip deh)
1 batang sereh (pangkalnya)
3 sdm ketumbar

Cara membuatnya :
1. Cuci bersih ayamnya (tempe mah gak usah dicuci).

2. Tambahkan bumbu halus dan bahan lainnya. Ungkep hingga air nya sat/habis.
3. Goreng ayam / tempe dalam minyak panas sampai kuning kecoklatan.

Note :
* Kalau mau bikin rada banyak buat disimpen, resepnya dikali 2 aja semua.
* Kemarin saya bikin untuk disimpen sebagian dan tahan sampai 3 hari di kulkas. Kayaknya bisa lebih lama lagi deh, soalnya kan tempenya udah mateng, jadi gak rentan busuk.


Gampang banget kan resepnya? Tapi kemarin karena laosnya diskip, rasanya jadi kurang tajam. Mungkin kalau ada laos, bumbunya bisa lebih menggigit.
Tempe goreng kalo nggak pake sambel rasanya nggak afdol, jadi kemarin sempet bikin sambel penyetnya NCC :

Bahan:
5 bh cabe merah keriting
3 bh cabe rawit
4 bh bawang merah
1 bh tomat, potong-potong
1/4 sdt garam
1 sdt terasi matang
1 sdt gula
2 sdm minyak goreng

Cara membuatnya:
1. Panaskan minyak goreng dalam wajan, goreng cabe merah, bawang merah dan tomat hingga layu, angkat taruh dalam cobek.
2. Beri terasi, garam dan gula, ulek hingga halus (kemarin diblender asal pake blender bumbu, soale nggak punya cobek).
3. Sajikan bersama lauk yang cocok dipenyet.

Minggu, 28 Agustus 2011

Lulur Ketan Hitam

Sesudah audit isi lemari, saya menemukan tepung ketan hitam yang saya sendiri sudah lupa kapan belinya. Sepertinya sih umurnya sudah cukup tua. Setelah browsing di beberapa situs, akhirnya saya memutuskan untuk menjemur tepungnya dulu, mumpung matahari lagi terik-teriknya. Sambil dijemur, saya sambil mengendus. Baunya sih nggak apek--kalau di milis, disarankan untuk tidak dipakai kalau sudah berbau apek.

Tapi saya juga tidak yakin kalau tepung ini masih layak pakai. Akhirnya dari sekian banyak situs yang saya temukan lewat google, ada 1 forum yang mendiskusikan tepung ketan hitam untuk lulur. Katanya sih bagus banget, bisa mengangkat kotoran dan sel kulit mati dengan sempurna.

Nothing to lose, akhirnya saya coba campurkan segenggam tepung ketan hitam dengan air sampai kentalnya cukup, lalu campurannya dibalurkan ke seluruh tubuh. Didiamkan beberapa saat, digosok-gosok lalu dibilas.

Hasilnya? Mantaaaappp!! Berasa banget kulitnya jadi bersih.. hehehe.

Ternyata barang di dapur pun bisa disulap fungsinya.
Jadi.. buat yang punya sisa tepung ketan hitam kadaluwarsa seperti saya, silakan dicoba luluran. Lumayan segar lho.. hehehe. *yang baru selesai luluran*

Sabtu, 27 Agustus 2011

10 Local Bites at Penang part 2

Lanjut dari yang sebelumnya, ada 5 lagi rekomendasi makanan khas Penang yang sudah sempat saya cicipi.
Sebenarnya sih (menurut saya) Penang itu kota yang penuh dengan makanan enak. Hanya kemarin saya nggak sempat hunting, jadi baru sempat mencicipi beberapa jenis dari sekian banyak makanan khasnya. Tapi peta makanan yang saya ambil di bandara masih disimpan.. hehehe jadi lain kali saya ada kesempatan, saya pasti akan hunting lagi.

Nah, lanjuuutt.. berikutnya yang sempat saya cicipi adalah :

6. Ais Kacang
Penampakannya mirip es campur Pontianak, bedanya untuk topping Ais Kacang menggunakan es krim. Isinya yang dominan kacang merah, kemudian ada koktil buah, jagung manis pipil. Di atasnya ada es serut yang disiram sirup gula hitam.. hmmm.. 
Di stand tertentu, penjualnya sangat artistik, sampai es krimnya pun dibuat berwarna gradasi cantik seperti ini.
Yang saya suka dari Penang adalah cita rasanya yang tidak terlalu manis atau asin. Sepertinya mereka percaya kalau yang berlebihan itu tidak baik buat tubuh. Jadi Ais Kacang ini manisnya hanya samar-samar, tapi segar dan nggak bikin haus lagi setelah habis dimakan. Nah, yang ini juga saya agak lupa harganya.. kalau nggak salah kisaran RM2.50 - RM3.

7. Penang Rojak
Ini dia yang selalu membuat saya terngiang-ngiang dan kalau boleh di-rating, inilah yang menurut saya paling juara. Dari sekian banyak stand Rojak di Gurney, kepunyaan Mr. Lee, Rojak 77-lah yang menurut saya paling yahud. Bumbunya oke, sampai-sampai kemarin saya beli untuk dibawa pulang.
Stand Rojak 77, menurut saya paling enak rujaknya.
Ada beberapa pilihan porsi untuk rujaknya, mulai dari yang paling kecil RM3.50, isinya standar (nanas, bengkoang, timun). Makin mahal, porsinya makin besar dan variasi isinya makin banyak. Yang RM4 ada irisan cumi yang sudah diproses sehingga rasanya mirip jelly. Paling mahal kalau nggak salah harganya RM6 yang porsinya buesaaar.. dan isinya lengkap.

Semua paket rujaknya disajikan dengan bumbu rujak yang terbuat dari gula hitam plus petis (petis Penang kabarnya terkenal karena enak sekali), irisan cakwe yang sudah digoreng sampai garing, dan remahan kacang cincang. Jika ingin rujak yang pedas, sebelumnya bumbu akan dicampur dengan cabe rawit hijau yang sudah diblender. Hasilnya adalah rasa pedas yang menggigit. Potongan buah-buahan yang asam sangat cocok dimakan dengan bumbu rujak Penang yang manis dan legit, dan meski ada bau petis tapi bumbunya tidak amis karena petisnya tersamarkan oleh wangi gula hitam.
Cakwe garingnya enaak.
Bumbu yang dikemas untuk take away pun harganya sangat terjangkau menurut saya, dengan RM5.50 kemarin saya memboyong 1 kemasan bumbu rujak Mr. Lee sebesar 1 kaleng susu kental manis untuk dinikmati di rumah. Dan seperti yang dijanjikan Mr. Lee, rasa bumbu rujak dalam kemasan itu persis sama dengan bumbu yang dia olah langsung di stand-nya. Daya tahannya bisa sampai 6 bulan di dalam kulkas, tapi sepertinya nggak sampai 3 bulan juga sudah ludes nih.
 
8. Kembang Tahu
Iya sih, di Indonesia juga ada kembang tahu.. tapi menurut saya beda negara pasti ada beda rasanya. Kembang tahu Penang sudah sempat saya cicipi di beberapa tempat berbeda, mulai dari pasar sampai toko yang khusus menjual kembang tahu sebagai komoditi andalan.

Kuahnya kental dan manis, lumayan kenyang juga lho makan seporsi.
Kesimpulannya, kembang tahu Penang lebih padat dari kembang tahu Indonesia. Tingkat kepadatannya hampir setara dengan tahu sutra! Beda dengan produk lokal yang "enteng" dan lembut, kembang tahu Penang terasa "berat". Beli 1 porsi aja kemarin untuk dimakan berdua.

Kuahnya pun menurut saya kurang mantap, kurang afdol di lidah saya yang sudah terbiasa dengan kembang tahu lokal. Mereka tidak pakai jahe dan kuahnya kental, dominan gula hitam. Sedangkan kembang tahu lokal favorit saya kuahnya encer dan jahenya nendang. Sayangnya saya sudah beberapa tahun ini nggak berjodoh dengan penjual kembang tahu lokal, jadi ya begitu ketemu kembang tahu disana, saya puas-puasin deh.

Kalau beli di pasar, kembang tahu yang bisa untuk 2 porsi ini hanya RM1.20. Kalau di toko spesialis kembang tahu, harganya mencapai RM3 per porsi.

9. Chee Cheong Fun
Saya ingat dulu jaman SMU, ada jajanan di depan sekolah yang hampir tiap hari saya beli. Namanya Chi Cong Fan, sepertinya asalnya dari Medan. Nah si Chee Cheong Fun Penang ini mungkin nenek moyangnya, karena yang disajikan lumayan mirip. Bedanya Chi Cong Fan yang beredar di Indonesia sudah banyak dimodifikasi supaya cocok dengan lidah lokal.

Yang lembaran-lembaran ini favorit banget kalau beli Chicongfan di penjual langganan
Seporsi hidangan ini cuma terdiri dari lembaran yang mirip kwetiaw (sepertinya terbuat dari tepung beras), yang nantinya dipotong dan diberi saus gula hitam, sambal (kalau kita minta) dan taburan wijen. Rasanya lumayan unik, tapi dominan manis jadi mungkin lebih cocok dimakan dalam porsi kecil ya. Harganya kalau tidak salah RM2 - RM3.

10. Floss Sandwich
Dikenalkan ke sandwich ini oleh seorang teman yang orang lokal, otherwise mungkin saya nggak akan pernah tahu ada jenis sandwich seperti ini. Penjualnya sangaaaaat ramah, setiap hari dia setia parkir mobilnya dan berjualan di depan salah satu gedung yang ada di seberang gereja Katolik di daerah Pulau Tikus.

Begitu kita pesan sandwichnya, dia akan mulai memasukkan roti yang sudah dibelah 2 ke panci tinggi untuk dikukus. Tujuannya supaya si roti jadi lembut--Rotinya juga tipe roti jadul yang seratnya agak padat, mirip roti tawar yang dipakai untuk es tong-tong. Setelah rotinya hangat, diselipkan sekeping dendeng dan juga setumpuk abon. Oh iya, sandwich ini tidak halal ya, karena sepertinya materi pelengkapnya terbuat dari pork.
Yummy.. cinta banget deh sama abonnya.
Tadinya saya pikir bakalan kenyang banget nih makan seporsi sandwich ini. Tapi ternyata kelasnya hanya setara cemilan, hehehe.. cukup enteng untuk dimakan sore-sore dengan segelas teh. Dendengnya sama sekali tidak alot dan abonnya tidak asin seperti yang saya bayangkan. Semuanya pas!
Lagi-lagi saya lupa harganya.. kalau tidak salah berkisar antara RM2 - RM2.50.

Nah, hopefully saya bakal balik lagi kesana dan sempat mencicipi makanan lainnya ya.. hehehe nanti saya akan update lagi (semoga).