Cari Posting Lainnya

Minggu, 15 Desember 2013

Ddeokbokki (Korean Spicy Rice Cake)

Bagi para penggemar serial drama Korea, pasti sering lihat penampakan si Ddeokbokki ini deh. Saya bukan penggemar drama Korea, tapi saya sering banget lihat si Ddeokbokki. Pertemuan pertama saya dengan si rice cake itu waktu adik saya pulang dari festival kebudayaan di FIB-UI, dia jajan dan salah satunya ada si Ddeokbokki. Waktu itu saya makan yang versi cupu karena yang jualan sesama mahasiswa. Tapi itu aja udah enaaak banget, rasanya kenyal dan bumbunya manis pedas melumuri si rice cake.

Sebenarnya ini masih kurang kental sausnya, harusnya lebih kering dari ini.

Dari situ saya penasaran banget, gimana cara bikinnya. Tadinya sih yang dicari itu di mana saya bisa membeli yang udah jadi, biar tinggal makan.. hehehe. Tapi ternyata menu ini langka, akhirnya saya mencari tahu bagaimana cara buatnya. Ternyata mudah banget!


Yang jadi kendala cuma ddeok-nya alias si rice cake. Dulu waktu makanan Korea belum sepopuler sekarang, sulit sekali mencari toko yang menjual si rice cake. Sampai akhirnya saya datang ke Interfood dan menemukannya di stand Mu Gung Hwa. Hwoohh.. betapa happy-nya saya!

Belakangan, Tuhan mengabulkan doa saya, Maangchi beberapa waktu lalu mengajarkan cara membuat rice cake dari scratch! Padahal dulu waktu saya tanya, dia bilang supaya saya beli aja daripada bikin sendiri karena effort-nya terlalu banyak. Lebih baik beli, praktis katanya :D



Resep Ddeokbokki yang saya pakai ini adalah resep paling basic, belakangan ada resep yang lebih mantap dengan menggunakan lebih banyak bahan dari Maangchi. Ini videonya :




Ddeokbokki (Korean Spicy Rice Cake)
Sumbernya dari Maangchi, tapi sepertinya resepnya sudah di-update dan nggak ada lagi.


Bahan (untuk 1-2 porsi) :
150 gram rice cake, potong-potong sepanjang 5 cm.
2-3 sdm gochujang (hot pepper paste)
1/2 sdm gula
2 cup air
3-4 ikan teri yang besar
3-4 batang daun bawang

Method :
1. Dalam panci, tuang air dan masukkan ikan teri yang sudah dibuang kepala & bagian perutnya. Rebus selama 10 menit dengan api sedang.
2. Angkat ikan terinya dan masukkan rice cake, gochujang, gula dan 1 sdm bubuk cabe (optional, ini akan membuat hasil akhirnya agak pedas). Masak sambil terus diaduk.


3. Potong-potong daun bawang sepanjang 5 cm, lalu tambahkan ke dalam panci.
4. Masak semuanya sambil diaduk terus sampai saus mengental dan rice cake-nya jadi mengkilap.
5. Angkat dan sajikan.

Minggu, 22 September 2013

Runny's Japanese Curry Rice

Pasti banyak deh yang penasaran sama resep ini, hehehe.. Saya juga dulu penasaran banget sama Japanese Curry Rice. Duluuu sebelum bahan makanan impor banyak beredar di pasaran seperti sekarang, saya cuma bisa ngiler dan membayangkan seperti apa rasanya nasi kare ala Jepang. Soalnya tiap baca komik atau nonton dorama, pasti menu ini muncul.

Dimakan bareng nasi merah juga enak lho!
Sebagai pelipur lara, biasanya saya suka membayangkan menu kentang dagingnya nyokap sebagai Japanese Curry.. hahaha. Yang mirip sih warna cokelat dan penampilannya aja :D

Ini juga nggak kalah enak, lain kali saya posting deh resepnya :D
Berkat video-nya Runny, saya akhirnya bisa menjajal resep kare Jepang. Tadinya sih cuma ditonton aja beberapa kali sambil ngiler.. soalnya bumbu karenya yang mirip cokelat batangan itu susah sekali dicari. Sampai akhirnya Tuhan menjawab doa saya :D tiba-tiba di hypermarket di Bogor, bermunculan berbagai jenis bahan makanan impor. Horee!

Kalau bisa makan pedas, lebih enak beli yang hot. Yang ini sih terlalu mild buat saya.

Sebenarnya sebelum mencoba masak kare ini, saya sempat icip-icip dulu di Ootoya Kitchen. Soalnya kalau masak di rumah, otomatis yang makan bukan saya aja. Jadi harus tahu nih, apakah rasanya bakalan aneh banget atau nggak. Bisa-bisa nanti diomelin kalau saya masak menu yang terlalu "out of this world".

Ini yang veggie curry, rasanya agak manis dibanding karenya Runny.

Ternyata enak lho, aromanya mirip kari Indonesia, bedanya mereka nggak pakai santan, konsistensi kuahnya kental seperti saus dan rasanya dominan manis. Tapi buat saya sih enak, meski kalau dimakan terlalu banyak jadi agak eneg karena cita rasanya agak nanggung, nggak "deep flavor" seperti kari Indonesia.

Nah, buat yang penasaran juga, silakan ditonton videonya Runny-san supaya tahu kira-kira seperti apa sih penampakan kare Jepang. Nanti kalau sudah ngiler, silakan praktekkan resepnya :D Menurut saya sih resepnya Runny ini rasanya enak-enak jadi nggak takut gagal deh.



Runny's Curry Rice



Bahan (untuk 4-5 porsi) :
250 gram daging sapi (saya ganti dengan paha ayam)
450 gram bawang bombai, iris. *kurang lebih 2 buah ukuran besar
270 gram wortel, dipotong-potong agak tebal. *kurang lebih 2 batang ukuran sedang
150 gram terong  *kurang lebih 2 batang ukuran sedang
340 gram kentang, potong dadu ukuran besar, rendam dalam air.  *kurang lebih 2 buah ukuran besar
10 buah jamur champignon
5 gram bawang putih, cincang.
10 gram jahe, cincang.
2 lembar bay leaf
1200 ml air kaldu *saya pakai kaldu jamur yang dilarutkan ke air
1/2 buah apel, diparut (kemarin saya skip karena lupa beli apel)
2 sdm saos tomat
120 gram bumbu kare Jepang atau curry roux, serut dengan menggunakan peeler.

Method :
1. Potong-potong terong jadi bongkahan, rendam dengan air garam.
2. Dalam panci, tumis irisan bawang bombai sampai kecoklatan (kalau saya sampai benar-benar coklat dan mengkaramel, konon katanya jadi lebih enak :D). Tambahkan bawang putih + jahe, tumis lagi sampai harum.

Teruskan menumis sampai jadi lebih coklat lagi dari ini, aromanya jadi lebih harum.
3. Masukkan kaldu & bay leaf, didihkan dengan api kecil selama 10 menit.
4. Sementara itu, tumis wortel dan kentang kurang lebih 5 menit. Masukkan ke dalam kaldu, rebus selama 10 menit dengan api sedang. Buang buihnya.
5. Tumis terong dengan sedikit minyak sampai agak kecoklatan. Sisihkan.
6. Tumis jamur dengan sedikit butter, bumbui dengan garam dan lada. Sisihkan.
7. Tumis daging (kalau punya wajan anti lengket, tidak usah diberi minyak) sampai matang. Sisihkan.
8. Tambahkan irisan curry roux ke dalam kaldu, aduk sampai larut. Tambahkan parutan apel & aduk rata.

Saya males pakai peeler, jadinya diiris pakai pisau aja deh.
9. Masukkan saos tomat dan bahan lain yang sudah ditumis tadi. Masak dengan api kecil selama 15 menit.
10. Angkat dan sajikan dengan nasi hangat, yumm!

Note :
* Resep ini jadinya lumayan banyak, jadi pakai panci ukuran agak besar ya supaya nggak luber.
* Menurut info yang saya dapat, kare Jepang ini sangat fleksibel. Banyak sekali yang suka menambahkan bumbu "rahasia" ke dalam kare-nya. Ada yang menambahkan bubuk kare, apel, bahkan coklat!
* Kalau nggak suka terong, di-skip aja ya. Bisa juga diganti dengan sayuran lain.


 
* Makannya bisa juga dengan roti atau seperti saya, donat.. hehehehe.

Selasa, 17 September 2013

Interfood 2013

Meski telat hampir sebulan, rasanya Interfood ini tetap harus dibahas. Selain karena ini event yang cuma berlangsung setahun sekali, kapasitasnya internasional lho. Jadi menurut saya, beruntung sekali kalau punya kesempatan untuk datang dan melihat-lihat ke sana.

Display super keren di booth Tulip.
Seperti FHI, kalau mau datang ke Interfood ini harus dengan membawa undangan. Undangan ini kalau datang pas hari H, akan dikenakan biaya sebesar IDR 50.000. Saya biasanya dapat undangan gratis, caranya dengan mendaftar secara online dari jauh hari sebelumnya di website kristamedia.

Interfood tahun ini sebenarnya agak kurang meriah dibandingkan dengan yang tahun lalu. Banyak produsen besar yang (entah kenapa) nggak ikutan, seperti Unilever, Sukanda Jaya (Elle & Vire, Diamond). Yummy, ABC & Nestle juga nggak kelihatan. Menurut saya malah lebih ramai di FHI.

Contoh aplikasi coklat hias di booth Mero.
Tapi katanya sih Interfood ini memang fokus di industri, jadi banyak yang menawarkan harga spesial untuk pembelian produk mereka. Seperti Mero yang sedang promosi untuk choco filling mereka yang terbaru. Kemarin saya berhasil dibujuk untuk beli 2 jenis filling dari Mero yang sedang diskon :D

Sebenarnya pastry-pastry ini dijual, tapi dalam bentuk bekuan.. hiks sayang nggak bawa cool-box.

Cokelat transfer tema wayang dari Tigerson.
Tahun ini saya senang sekali karena pada saat pameran, saya bertemu dengan banyak teman-teman seperjuangan. Jadi ada teman untuk melihat-lihat dan diskusi. Saya juga sempat bolak-balik selama 2 hari, jadi lumayan puas. Sayang di hari kedua, saya lupa bawa kamera. Akhirnya terpaksa foto-fotonya hanya diambil menggunakan ponsel.

Cuma di event seperti ini, kita bisa lihat chocolatier beraksi.


Overall, Interfood tahun ini lumayan menarik, terutama untuk belanja. Tapi untuk kemeriahannya, FHI jauh lebih ramai. Untuk ngintip foto-foto lengkapnya, silakan main ke sini ya.

Kamis, 22 Agustus 2013

Indonesian Perkedel (Potato Pancakes)

Okay, so this will be my first post in English (hopefully it won't be my last). I decided to post about Indonesian Perkedel (Per-Ga-Dell) because lately I notice some similarities between Perkedel and Japanese Korokke. So I think maybe this is the kind of food that travels around the world and been through some adaptation here and there. Hopefully it can be as famous as Korokke :D

I always love Perkedel, can't even resist to eat one if I encountered with it. So the fact that it can be done with so many methods excites me.


I remember I used to help my Mom made Perkedel. We always made it using mortar and pestle, everything is smashed except for the green onions, so it was a lot of work. And because our family consists of many people, my mom had to went and make quite a lot of them. That is why it became a rare and exclusive menu in our family.


Basically, most ingredients works well with Perkedel. I've already done quite a lot of experiment with it. Of course we can't skip the potatoes, but everything else are experimental. I've tried skipping the meat and use only potatoes and fried garlic slice, or replaced the minced meat with canned corned beef, or replaced minced beef with minced shrimp. It all worked well!

I made this one using only potato and fried garlic. It's great for afternoon snack.

But, since I'm going to use my mom's recipe, I'm going to write the basic recipe and maybe you can add or skip some ingredients depends on how you like your Perkedel.

Indonesian Perkedel (Potato Pancake)


Ingredients :
3-4 large potatoes
1/4 - 1/2 cup of minced shrimp/beef (more meat makes coarser texture)
5-6 cloves of Indonesian red onions (you can replace this with 1/2 of a shallot, or if it's a hassle just skip it)
4 cloves of garlic (if you skip the red onions, add another 2 cloves, slice them all and fry until golden brown)
2 teaspoon of grated nutmeg (you can skip this if you don't like the aroma)
2 stalks of green onions, chopped.
salt and pepper
1 egg
oil for frying

Method :
1. Peel and cut potatoes into chunks, give them a good wash in cold water and put them in a basket or colander to drain the excess water.
2. Fry the potatoes until they are cooked. Set aside. Keep the oil in the pan for frying the Perkedel later on.
3. If you have pestle and mortar, bash the red onions and garlic until they become a coarse paste. If you don't have one (like me), you can use food processor or just finely chop them.

If you have a fresh nutmeg like this, just grate it right into the potato mixture.

4. Using a fork, mash the potatoes until it achieve a rather smooth texture. Or if you are a fan of silky smooth mashed potato texture, use pestle and mortar to pound them (My mom used pound half of the onions and then put in some potatoes, and bash them altogether so the onions won't spurt). *Avoid using food processor though, because it will make the Perkedel taste rubbery.
5. In a big bowl, combine the mashed potatoes, onions+garlic, chopped green onions, grated nutmeg and minced shrimp/beef. Add 2 teaspoon of salt and 1 teaspoon of pepper to taste.


6. Shape the mixture into a ball and slightly press them to flatten.


7. Re-heat the oil in medium-low heat and beat the egg.
8. When the oil is hot enough, coat Perkedel in beaten egg thoroughly and gently put it into the oil to fry.
It's better to do this with your hand to keep a nice smooth shape of the Perkedel.

Usually, I only put this much oil to fry them. So this is not considered as "deep fried" :D

9. When frying, don't turn it around until the bottom part turns brown and solid (it should only take 5 minutes), otherwise it will get messy.
10. After both sides are turning brown and solid, transfer it to paper towel or put it in a sift to drain the excess oil. And after that, it is ready to serve. I usually eat this with some rice and stir fried-veggies.

This one consists 40% minced beef in it, so it will give more "meaty" texture.

So, that is my favorite Perkedel recipe. I hope it is useful and please forgive my awkward English. Thank you for reading this post.

Minggu, 30 Juni 2013

Forgiving (and delicious) Banana Cake

Setiap kali ke pasar, saya selalu aja kalap kalau lihat sayuran atau buah segar yang harganya murah. Apalagi kalau item-nya langka, seperti pisang mas. Dulu pas masih kuliah, saya inget banget ada teman se-kost yang suka beli pisang mas 1 tandan! Hanya karena harganya murah dan dia pingin diet.. hehehehe.

Kemarin ini, saya berhasil dapat 1 tandan pisang mas yang sangat bagus kondisinya cuma dengan IDR 20.000. Mestinya sih mungkin lebih murah lagi ya (tahun lalu pernah beli di Puncak cuma IDR 10.000!), tapi karena saking senengnya nemu pisang ini, saya nggak banyak nawar. Kasihan juga akang penjualnya kalo kebanyakan ditawar.

Sengaja beli 1 tandan, pokoknya kalau nggak habis dimakan, pisangnya mau dibikin kue. Atau biskuit. Atau Banana Bread. Atau milkshake. Hahahaha.. pokoknya banyak deh maunya. Soalnya pisang aromanya enak banget kalau dijadiin dessert.

Tambah enak dimakan bareng susu + Jico :D
Setelah browsing dan sibuk membandingkan resep sana-sini (seperti biasa), saya ketemu resep yang judulnya lucu banget : Forgiving Banana Cake. Maksudnya resepnya sangat toleran, bisa diubah sesuai selera dan kebutuhan, dan hasil kuenya nggak akan gagal. Wuihh, intimidating!

Setelah dicoba, hasilnya memuaskan! Teksturnya empuk, wangi pisang dan rhumnya berasa. Terus juga ada kejutan dari kismisnya, kalau kata orang Jepang ini "meccha kuccha oishii". Meskipun campur aduk, tapi somehow rasanya enak. Buat yang mau jajal, silakan intip resepnya ya. Jangan lupa pisangnya ditunggu sampai matang sekali, supaya wangi.

Forgiving Banana Cake
Resepnya diterjemahkan dari sini


Bahan :
100 gram mentega (atau margarine)
175 gram gula
¼ sdt garam
2 butir telur
1 lemon zest (parutan kulit lemon)
100 gram kismis (optional), rendam dengan rhum.
1 sdm rhum (optional)
400 gram pisang (yang sudah matang sekali), haluskan.
1 sdm air jeruk lemon
150 gram kacang (cincang kasar - optional)
300 gram tepung terigu
2 ½ sdt baking powder
4 sdm susu (optional)

Method :
1. Panaskan oven di suhu 175 derajat Celcius. Siapkan loyang, olesi mentega, beri alas kertas roti dan olesi mentega kembali (saya pakai loyang panjang ukuran 10x24 cm, bisa juga pakai loyang tulban).
2. Kocok mentega dan gula sampai lembut. Boleh langsung memakai mentega yang dingin dari kulkas, tapi telurnya harus yang suhu ruang.
3. Tambahkan telur, kocok sampai adonan menjadi ringan dan fluffy. Tambahkan parutan kulit lemon dan kismis, aduk rata.
4. Masukkan pisang dan air lemon, aduk rata. Jangan kuatir kalau adonannya tidak mulus. Tambahkan kacang (jika pakai).
5. Aduk rata tepung terigu dan baking powder, tambahkan ke dalam adonan dan aduk rata. Kalau adonannya terasa berat, tambahkan susu (atau rhum jika suka).
6. Panggang dalam oven selama 75 menit. *Hati-hati gosong ya, kemarin saya kecilkan suhu ovennya sampai 160 derajat dan waktu panggangnya hanya sekitar 45-60 menit.

Minggu, 09 Juni 2013

Serba Ubi Ungu, Kue Lumpur & Bola Ubi

Sebenarnya udah diniatin mau blogging rutin tiap bulan, tapi ternyata susah juga ya bagi waktunya. Saya bersyukur banget, belakangan Eggtart sudah mulai ada penggemar tetapnya. Meski sibuk, tapi puas dan senang :D

Tadinya saya nemu resep yang berbahan dasar ubi ungu karena iseng bereksperimen dengan cheese cake. Setelah selesai dengan cheese cake, ternyata ubi ungunya sisa lumayan banyak. Akhirnya browsing deh nyari resep, dan ujung-ujungnya pilihan tetep jatuh ke resep NCC.


Bola Ubi Ungu yang legit, di tengahnya disisipin gula merah.

Nah, tanpa berpanjang lebar, silakan diintip resepnya. Dua-duanya resep yang sangat simpel, tapi enak sekali dijadiin camilan sore-sore. Saya pribadi suka banget sama ubi ungu karena teksturnya lebih legit dan warnanya lebih cantik dibanding ubi merah atau putih.

Kue Lumpur Ubi Ungu
Resep aslinya dari NCC


Bahan : *Kalau cuma untuk dimakan berdua seperti saya, bikinnya 1/2 atau 1/4 resep aja ya.
500 gr gula pasir
500 gr tepung terigu
1 kg ubi ungu, kukus dan haluskan
200 gr margarine, lelehkan
5 btr kuning telur
4 btr putih telur
1 ltr santan
1 sdt vanilli
1 sdt garam
200 gr kismis, untuk taburan


Method :
1. Kocok gula dan telur sampai putih dan mengembang (tidak perlu sampai naik), masukkan garam dan vanilli sambil terus dikocok.
2. Tuangi santan, aduk rata. Masukkan ubi ungu dan tepung terigu secara bertahap sambil tetap diaduk rata.
3. Terakhir, tuang mentega leleh dan aduk rata.
4. Panaskan cetakan kue lumpur, poles mentega. Tuangi adonan hingga ¾ penuh, tutup dan biarkan sampai setengah matang. *Apinya harus yang keciiil se
kali, supaya matangnya bagus. Kalau nggak, nanti dasarnya keburu menghitam dan atasnya masih basah.
 5. Taburi kismis, tutup lagi, biarkan sampai matang dan angkat. Variasi taburan lain bisa menggunakan parutan keju, irisan nangka,  meises, dll.


Bola Ubi Ungu 
Resep aslinya juga ngintip dari NCC


Legit dan wangi >_<
Bahan:
500 gr ubi ungu, kukus, haluskan
2 sdm gula halus
3 sdm tepung sagu
½ ltr minyak goreng


Method :
1. Campur ubi, gula halus dan tepung sagu, aduk rata. Buat bulatan sebesar bola bekel. *Kalau saya menyisipkan bon
gkahan kecil sekitar 1 sdt gula merah di tengahnya. (hasil nyontek dari penjual gorengan di Depok.. hehehe)
2. Panaskan minyak dengan api sedang. goreng bola ubi hingga kuning kecoklatan. Angkat dan sajikan.
3. Taburi gula halus dan kayu manis bubuk untuk penampilan dan rasa yang lebih kaya.

Kamis, 18 April 2013

Going to My Wonderland, Food and Hotel Indonesia 2013.

Yeaaa! Food and Hotel Indonesia datang lagiii! Tanggal 13 April lalu, saya kembali menjelajah JI Expo. Saya suka banget sama exhibition ini karena berbeda dengan Interfood, peserta pameran yang satu ini lebih beragam. Mereka juga nggak hanya fokus ke jualan, dan lebih banyak bermain dengan display produk mereka.

Stand liquor, kalau mau beli bisa minta tester dulu lho.

Kalau boleh dibilang, Interfood lebih fokus ke pelaku bisnis sementara FHI masih cocok didatangi oleh orang awam. Memang sih untuk FHI, kelihatan dominan sekali di minuman, liquor, mesin kopi dan produk kopinya sendiri. Tapi banyak juga stand lain yang menarik dan unik, misalnya yang jualan kursi khusus untuk kafe, ada juga stand yang jual linen khusus untuk hotel, mesin cuci khusus hotel, dan dishwasher super jumbo untuk hotel.

Stand Swallow Globe yang super ramai.

Stand ABC Heinz yang megah, ada macam-macam jus di sini.

Stand favorit saya! Produk tableware mereka di-display dengan apik.

Ada lomba juga untuk para chef, namanya Salon Culinaire.

Stand Lumbung dengan display roti yang selalu menarik.

Si Ikons ini jualan kursi, disainnya unik dan cantik.

Hehehe.. makanya menurut saya jadi menarik banget. Ada juga stand tableware impor yang produknya cantik-cantik. Banyak juga yang ada di FHI ini tapi nggak muncul di Interfood. Makanya, saran saya ikut aja dua-duanya :D

Saya suka banget dengan warna display-nya! Captivating!

St. James yang serba putih.

Pameran Food and Hotel berikutnya akan diadakan di Bali tahun depan. Tahun 2015 nanti baru akan kembali diselenggarakan lagi di Jakarta. Ayo yang belum pernah ikut, sementara ini save the year ya!
Oh iya, untuk foto lebih lengkapnya, silakan diintip di sini.

Kue Talas Ebi Pontianak

Dulu sewaktu masih kecil, saya suka sekali jajan. Saya ingat dulu di sekitar rumah, tiap hari lewat ibu penjual pecel dan ibu penjual bubur sum-sum. Waktu itu masih tahun 90-an, jajanan yang ada belum seaneh sekarang, yang katanya ditambahi bahan ini itu supaya anti busuk.

Banyak sekali jajanan yang sering saya makan waktu kecil, yang tidak dijual di pasaran. Kalaupun ada, rasanya sudah berubah jauh dari yang dulu saya makan. Satu-satunya cara untuk menikmati beberapa item yang sulit dicari itu, kalau nggak beli ya turun tangan sendiri ke dapur.

Maaf ya fotonya cuma ada dua. Nggak sempat foto lagi karena langsung ludes :D

Tapi untuk bikin sendiri, kadang saya nggak punya resepnya. Kalaupun mau tanya ke nyokap, dia juga hanya bisa kira-kira. Hehehe.. kalau judulnya udah kira-kira sih, saya lebih baik nggak minta resepnya. Feeling saya jelek sihh.

Hal inilah yang sepertinya jadi latar belakang dimulainya event Jajan Tradisional Indonesia Week di NCC. Sejak hari pertama aja, makanan yang tadinya saya nggak pernah tahu nama atau bentuknya, mulai berseliweran di milis.


Event-nya rame banget, kayaknya rugi kalau nggak ikutan. Kebetulan saya juga lagi pengen banget makan jajanan Pontianak. Jadilah saya memilih resep yang (sepertinya) belum dijual di manapun di Jakarta dan mendatangi nyokap untuk workshop privat bikin kue Talas Ebi. Kue ini dibuat dari parutan talas Pontianak yang dicampur sedikit air garam, dikukus lalu dimakan dengan topping ebi goreng garing.

Dulu waktu sempat tinggal di Pontianak sih, hampir tiap hari makan ini. Dan biasanya nggak cukup sepotong lho. Apalagi kalau diguyur sambal terasi encer, wuihh.. ini aja nggak pakai sambal terasi, kuenya nggak sempat difoto. Langsung lenyap seloyang diserbu orang rumah :D

Kue Talas Ebi Pontianak

Nama Hakka-nya Bu Pan. Literally means Kue Talas.
Bahan kue :
2 buah talas Pontianak ukuran besar (kurang lebih 1.6 kg, ditimbang bersama kulit dan batangnya)
*Catatan penting : harus pakai talas Pontianak untuk hasil maksimal. Menurut nyokap, kalau diganti talas lain (talas Bogor misalnya), nanti jadi nggak legit.
1-1.5 gelas air matang
1 sdt garam

Bahan topping :
2 siung bawang putih
150 gr ebi, rendam dalam air panas sampai mengembang
1-2 sdm lobak manis kering (bisa diskip kalau tidak suka)
minyak untuk menggoreng secukupnya

Cara membuat :
Topping :
- Cincang bawang putih dan lobak manis kering, sisihkan.
- Cincang ebi yang sudah ditiriskan dari air panas, sisihkan.
- Panaskan minyak agak banyak, goreng ebi sampai minyak berbuih dan ebi berwarna kecoklatan. Angkat dan sisihkan.
- Goreng bawang putih sampai keemasan, masukkan lobak manis cincang, aduk sebentar. Masukkan ebi goreng dan aduk-aduk. Matikan api, angkat dan sisihkan.

Untuk kuenya :
1. Bersihkan talas dari tanah yang menempel dengan menggunakan pisau (saya kemarin dikerik sampai agak bersih).
2. Setelah tanahnya disingkirkan, kupas kulit talas. Bila perlu, setelah dikupas kulitnya, bersihkan lagi dengan menggunakan tisu atau lap bersih. Jangan dicuci, karena akan mengakibatkan licin pada saat diparut.
3. Parut talas sesuai selera, jika suka tekstur kasar, gunakan parutan berlubang besar. Kalau suka tekstur lembut, gunakan parutan berlubang kecil.
4. Campur garam dengan air matang.
5. Campur air garam ke parutan talas, aduk sampai rata. Boleh dicicipi sedikit. Jika kurang asin, bisa ditambahkan air garam sedikit lagi. Bentuk adonannya akan menyerupai pasta, tidak encer dan tidak terlalu kental.
6. Panaskan kukusan, tuang adonan ke loyang atau nampan yang agak cekung.
7. Kukus dengan api sedang selama 25-35 menit. Jika sudah matang, adonan tengahnya akan terasa legit dan warnanya akan berubah menjadi ungu.
8. Angkat dan tunggu sampai agak dingin supaya tekstur kuenya agak padat.

Cara penyajian :
- Potong-potong kue dalam loyang, angkat dan letakkan di piring.
- Taburi dengan topping, boleh juga ditambahkan sambal favorit atau silakan membuat sambal simpel dengan mencampur sambal botol+ sedikit cuka dan diencerkan dengan sedikit air.

Sabtu, 23 Maret 2013

Many Ways to Dulce de Leche

Waktu pertama kali baca namanya, saya pikir Dulce de Leche ini sejenis dessert; kue atau pudding. Nggak tahunya, ini adalah nama keren dari susu kental manis yang direbus. Dan ternyata saya sering bikin untuk Medovik :D

Berkat Medovik, jadi kenal Dulce de Leche <3

Kenapa saya share di sini? Karena rasanya enaaaak banget! Malah saya lihat ada teman yang merebus susu kentalnya selama 4 jam lebih, sampai teksturnya jadi agak memadat seperti toffee.

Saya hanya merebus sampai 2 jam, soalnya butuhnya yang agak encer.

Kalau direbus lebih lama lagi, jadinya lebih kental dan lebih enaak!

Cara buatnya mudah sekali, teorinya sih tinggal cemplungin susu kental manis beserta kalengnya ke dalam panci berisi air sampai seluruh kaleng terendam. Setelah itu direbus selama 2 jam (atau sampai 4 jam untuk menghasilkan tekstur toffee). Semakin lama merebusnya, semakin kental dan sedap rasanya.



Tapi mengingat kaleng susu kentalnya ikut direbus, saya prihatin juga. Apalagi rebusnya lama, sampai lebih dari 2 jam. Untung dapat pencerahan dari Natashas Kitchen, kalau susu kentalnya bisa dipindahkan dulu ke tempat selai, baru kemudian direbus. Yang penting, tempat selainya harus yang bagus, supaya tutupnya rapat dan nggak kemasukan air.

Pastikan semuanya terendam air ya.

Ada juga yang membuat Dulce de Leche dengan cara memindahkan susu kentalnya ke loyang pie, terus dipanggang selama 2-3 jam dengan cara au bain marie.

Metode lainnya, bisa juga dengan cara double boiler. Susu kentalnya dituang ke mangkok stainless, letakkan mangkok di atas panci yang berisi air (pancinya kalau bisa lebih kecil dari mangkoknya). Tumpangkan panci ke atas kompor, nyalakan api kecil, masak susunya selama 3 jam sambil diaduk sesekali supaya tidak hangus. Repot juga ya?

Metode double boiler. Gambar diambil dari http://unsophisticook.com/how-to-make-a-double-boiler/

Kalau metode yang saya pakai, cuma perlu ditengok sesekali supaya ketinggian airnya selalu cukup. Jadi tempat selainya selalu terendam air. Banyak lho resep yang pakai Dulce de Leche ini, dan sebenarnya sih nggak perlu diutak-atik juga udah enak banget. Penasaran? Ayo bikin :D