Cari Posting Lainnya

Senin, 04 April 2011

Bogor dan Jajanannya

Kalau ada waktu dan sempet main ke Bogor, luangkanlah waktu untuk mencicipi jajanan khasnya. Mulai dari toge goreng, Bir kocok, sotomie, laksa, soto kuning dan makanan Sunda lain-lain yang tersebar di seantero kota Bogor.

Sebenarnya saya juga bukan asli orang Bogor, saya termasuk pendatang. Jadi saya belum tahu persis apa jajanan khasnya kota ini. Yang saya tahu ya mereka-mereka yang saya sebutkan tadi, dan kebetulan saya sempat meluangkan waktu untuk mencicipi masing-masing jenis jajanan itu. Nah, yang mau saya bahas ini jajanan versi saya :


1. Laksa Bogor 

Pertama kali nyicipin laksa ini di Mal Botani Square yang letaknya di pusat kota Bogor. Standnya ada di area food court. Waktu itu judulnya Laksa Cibinong kalau nggak salah, ternyata nggak mengecewakan lho.. rasanya enak, persis seperti bayangan saya. Dominan kunyit, kuahnya harummm banget, mirip soto kuning. Kebetulan yang saya makan waktu itu kuah santannya kental. Isinya ada bihun, potongan telur rebus, kalau nggak salah ada potongan ketupatnya sedikit (atau tahu yaa?). Udah lupa soalnya makannya udah lama. Garnish-nya pakai bawang goreng dan daun kemangi.

Laksa Cibinong, kuah santannya kentel
Nah, nggak lama pas nemenin temen dan mamanya belanja di Grand Supermarket--yang sohor banget di Bogor- direkomenlah saya ke penjual laksa yang persis jualan di pintu keluar parkiran Grand. Lokasinya di belakang, dan jaraaaang banget ada kendaraan yang lewat. Kecuali yang udah tau kalau Grand punya parkiran (saya aja baru taunya pas nganter si Tante). Katanya laksanya enaak. Kebetulan si Tante jago masak dan saya anyhow lebih percaya sama rekomendasi orang yang jago masak atau yang mamanya jago masak. Hehehe.. karena selera mereka pastilah lebih 'terbentuk'.

Laksa Grand yang murmer
Pas belanja bahan kue menjelang Imlek, saya iseng nyicipin laksa di depan Grand ini. Meski tempatnya cuma sepetak (bener-bener cuma sepetak lho, kecilll). Tapi yang jualannya rapih, pakai bajunya necis, orangnya juga luar biasa ramah. Dan jualannya juga nggak sembarangan (believe me, saya petualang kaki lima dan langka banget ketemu penjual kaki lima yang sebersih ini).

Laksa Bogor versi murmer
Laksanya si Bapak lebih simpel, harganya juga murah, cukup mengenyangkan perut dengan bandrol IDR7500 per mangkok. Isinya ada seperempat telur rebus, bihun, tahu, taoge, dannn yang bikin excited adalah taburan serundengnya. Masih diberi garnish daun ketumbar jadi tampilannya lumayan menarik. Kuahnya sama kuningnya dengan yang di Mal, tapi santannya encer. Yah.. mendingan jauh daripada jajan bakso. Yang ini ada taogenya (banyak malah), jadi harusnya lebih sehat ya.. hehehehe.


2. Soto Kuning
Yang terkenal itu letaknya Soto Kuning Pak Yusuf di Jl. Suryakencana, Bogor. Dekat ATM BCA. Soalnya banyaaaaak banget yang jualan soto kuning, jadi kadang-kadang suka rancu, yang mana yang asli. Apalagi semuanya dilabelin nama "Pak Yusuf". Salah beli, akibatnya gagal mencicipi kedahsyatan rasa asli Soto Kuningnya.

Sistem jualnya sebenarnya tricky : pilih dulu potongan dagingnya, mau daging, atau babat atau jeroan lain. Nanti dikasihkan ke penjual untuk diiris-iris. Setelah itu dikasih kuah deh. Hitungannya per potong dagingnya. Saya udah lama gak beli jadinya lupa deh.. kalo nggak salah per potong itu IDR8000. Hehehe.. saya kasih penjelasan soalnya suamiku kemarin itu sempet nggak 'ngeh' kalo harganya dihitung per potongan daging. Dia milih dagingnya 5 buah (kalap liat dagingnya besar-besar), dan pas bayar sempet syok dengan harganya. Hahahaha.. tapi worth it kok. Porsinya besar, santannya kental dan berasa banget bumbunya. Dagingnya juga karena dipilih sendiri jadi nggak sembarang tercampur sama jeroan aneh-aneh.

Eh iya, maaf nggak ada fotonya. Saya lupa motretnya ;p

3. Asinan Bogor


Agak bingung juga ya kalau asinan itu dicap khas-nya Bogor. Soalnya saya nggak ngerasa ada spesial-spesialnya (maaf ya buat para pecinta asinan). Yang terkenal itu Asinan Gedong Dalam, yang sudah sejak berpuluh tahun yang lalu merajai bisnis asinan di Bogor. Kalau weekend, rameeee banget. Rasanya memang enak sih.. tapi ya itu, menurut saya nggak terlalu spesial. Saya pribadi lebih suka asinan buahnya karena rasanya lebih segar.

4. Kue Ape alias Breast Cake :D
Banyaaak sekali penjuwal Breast Cake di Bogor. Mulai dari yang hijau menyala sampai yang harum menggoda. Saran saya sih hati-hati kalau mau beli kue ini. Karena takut mereka pakai pewarna yang nggak edibel. Soalnya pernah ketemu penjual kue yang kuenya warna hijau nge-jreng. Ngeliatnya bukan tergoda tapi malah kabur.. hehehehe serem sih.

Nggak pernah ngebosenin
Yang biasa suka dibeli itu yang lokasinya di depan Bogor Permai, atau yang tepat di depan Resto Yun Sin juga ada. Biasanya kalau weekend, harganya suka naik. Dari IDR600-an bisa jadi IDR800-an per pcs. Yah, pinter-pinter tawar harga aja :D
Kue Ape alias Breast Cake
Kalo saya sih sukaaa banget sama kue ini, karena tergolong makanan ringan. Cemilan di kala iseng, kadang juga lumayan ngeganjel kalo lapar. Saking ringannya kue ini, saya bisa makan 5 pcs sendirian lho.. hehehe.

5. De Leuit
Bukan, De Leuit bukan nama makanan tapi nama resto yang lagi happening banget di Bogor. Specialty-nya makanan Sunda, dan harus diakui makanannya enak-enak semua. Range harganya juga reasonable, nggak heran tiap hari selalu rame. Bahkan kemarin pas dateng di hari Minggu siang, sampai macet total. Hehehe..

Yang sempet dicobain dan enak itu Nasi Jambal (nasi yang ada bumbunya dan diselipin potongan2 ikan asin), biasanya beli paketnya yang terdiri dari Nasi jambal, tahu-tempe, sambal, lalap, dan bisa pilih antara ayam goreng, empal goreng atau ikan balita. Kejam sih kalau makan ikan balita, tapi rasanya enak.

Nasi Jambal Komplit Ikan Balita-nya De Leuitt
Kalau datang dengan keluarga, tempat ini bisa jadi tempat yang nyaman untuk haha-hihi. Bisa pesan makannya yang per porsi. Lauk dan sayurnya hampir semuanya enak, jadi hampir semuanya rekomended ya. Kalau minumannya yang sering saya pesan itu Es Pala-Mangga dan Es cendol kelapa. Porsinya besar, jadi bisa dianggap dessert juga tuh..

6. Teh Upet
Hehehe.. nggak tau juga ya ini khas Bogor apa bukan, sepertinya dan hampir pasti sih bukan.. tapi menurut salah seorang teman saya, teh ini susaaaah banget ditemukan di Jakarta. Saya pertama kali kenal teh kemasan itu ya dengan si Upet ini. Dulu harganya masih murah, hanya IDR3000 perak per gelas. Sekarang karena saking lakunya, harganya naik jadi IDR3500. Saya lebih sering beli daun tehnya karena disini mudah sekali ditemui daun tehnya dalam berbagai ukuran. Harganya juga lebih murah ;p

Udah Pasti Enak Tehnya!
Pas tinggal di Jakarta, saking langkanya, tiap kali ketemu si Upet, saya dan teman-teman saya sering euforia nggak jelas. Hahahaha.. kesannya minum teh ini bisa hepiii jadi kayak dopping. Tapi memang dibanding teh kemasan gelas lain, saya paling suka sama si Upet. Lebih berasa, dan rasanya lebih alami dibanding yang di botol ;p

Eh iya, kenapa namanya UPET? Ternyata UPET itu singkatan dari Udah Pasti Enak Tehnya. Hahahaha.. love it!

7. Sotomie
Terus terang nggak banyak pengalaman bagus dengan soto mie. Malahan sepanjang sejarahnya makan soto mie, enakan yang di Jakarta.. hahaha. yang di Bogor kalau makan di pinggiran, lebih banyak kena tipunya (yang harusnya daging malah dikasih kikil). Rasanya juga vetsin banget. Satu-satunya menurut saya yang enak itu yang ada di Taman Yasmin, tapi itu pun area jajanan yang biasa ramai di pagi hari sudah digusur warga.. hiks. Padahal menurut saya enak banget sotomie yang dijual disana. Dagingnya full tanpa jeroan aneh-aneh, empuk pula. Bumbunya pas, nggak terlalu gurih. Sigh.. sekarang saya hanya punya fotonya aja.

Dagingnya besar-besar dan empuk.. hiks.. Akang, pindah kemanakah engkau??

Lain lagi dengan Soto Mie versi chinese, kalau yang ini saya suka banget. Cuma memang harganya rada mencekik dan rasanya agak 'berat' kalau terlalu sering dimakan (maksudnya karena isinya padat dan banyak dagingnya, jadinya kadang suka mbosenin ya).

Isinya penuh material non-halal, tapi enak :D
Soto Mie yang sering saya makan itu lokasinya di jalan Suryakencana (lagi-lagi). Labelnya Soto Mie Agih (ada gambar wajah bapak-bapak gendut berkumis). Khasnya adalah kuahnya kaldu bening, isinya ada daging dicampur dengan babat putih (sepertinya pork ya), mie, dan toppingnya (ini dia yang favorit) daun bawang goreng. Jadi wangiii.. Harganya IDR22000

Di seberangnya persis ada Soto Mie Ciseeng, nggak setenar si Agih. Tapi rasanya juga lumayan enak. Menurut saya sih porsinya lebih banyak dan rasanya lebih orisinil. Kalo Agih itu lebih 'user-friendly'.. hehehe. Oh iya, kalau si Ciseeng ini kuahnya ada potongan lobaknya.. enak.

8. Toge Goreng
Ah, mentang-mentang nggak doyan jadinya hampir lupa dan ditaruh di nomer buntut. Menurut saya Toge Goreng ini rasanya aneh. Kalau nggak doyan tauco, mending nggak usah repot-repot mencoba menu ini. Entah karena saya yang belum nemu Toge Goreng enak, atau memang semua Toge Goreng rasanya seperti itu. Yang jelas saya nggak bisa menyatakan kalau saya doyan makanan ini. Hehehe..


Dibilang nggak enak, nggak juga sih.. rasanya unik juga (meski saya nggak ngerti kenapa namanya Toge Goreng sementara togenya direbus *misteri*). Ada campuran bumbu kacang, tauco, tauge rebus, mie basah, potongan tahu dan ketupat. Mungkin karena saya bukan pecinta makanan manis, atau mungkin karena saya belum nemu penjual toge goreng yang punya resep yang bisa meyakinkan saya kalau makanan ini enak.

Selain yang nggak suka tauco, makanan ini boleh masuk list wajib coba kalau main ke Bogor :D

9. Yun Sin
Kalau masih ada ruang untuk makan berat, silahkan main ke Yun Sin dan coba menu mie-nya. Yun Sin ini sama seperti De Leuit, bedanya yang satunya masakan Sunda, yang ini Chinese food. Menu andalannya adalah Mie ayam, yang merupakan favorit pengunjung. Mienya bukan seperti Bakmi GM yang halus dan keriting. Kalau disini, mienya agak besar dan rasanya agak kenyal jadi porsinya besar. Lokasi restonya ada di dekat sekolah Regina Pacis. Atau ada cabangnya di Mal Botani Square. Asiknya makan disini, tehnya free refill :D

2 komentar:

  1. Teh Upet is the best dah, nyari nya meni susah pisan tea. wkwkkwkw

    BalasHapus
  2. Disini banyak malah, ampe ke bungkus2 daun tehnya yang paling gede.. si Mbak yang jaga standnya aja jualannya udah belagu, kayak gak butuh duit.. hehehehe

    BalasHapus